Indonesiadaily.net – Pakar ekonomi Dr Rizal Ramli teringat pesan mendiang mantan presiden RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Pesan itu ditujukan agar hati rakyat menjadi senang dengan kebijakan yang diambil oleh pemerintah.
Hal itu disampaikannya saat acara haul ke-13 mantan presiden RI ke-4 itu di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan, belum lama ini.
Bagi Rizal Gus Dur lebih dari sekedar orang tua atau kakak yang sangat dihormati. Menurutnya Gus Dur adalah guru ideologis yang ikut menularkan nilai-nilai kebenaran dan kejujuran untuk dirinya.
“Saya datang untuk menghormati Gus Dur sebagai tokoh demokrasi yang sepanjang hidupnya berjuang untuk kemajuan Indonesia dan kesejahteraan mayoritas serta jadi pembela kelompok minoritas yang tertindas,” ujarnya.
“Pesan Gus Dur waktu itu sederhana sekali, yang penting senangkan hati rakyat. Karena itu saya mewujudkannya dengan membuat berbagai kebijakan ekonomi yang mensejahterakan rakyat,” ujar Rizal Ramli.
Hasilnya, prestasi cemerlang Rizal Ramli sebagai pejabat tinggi negara dalam meningkatkan pertumbuhan perekonomian nasional dan menciptakan kesejahteraan rakyat di berbagai sektor hingga kini jejak rekamnya masih tersimpan di memori publik.
Rizal Ramli menilai Gus Dur mewarisi ciri tokoh-tokoh besar yang enlighten (mencerahkan) dan energizer (menggerakkan) terhadap kemajuan bangsa.
Yang menarik saat hadir di acara khaul Gus Dur tadi malam Rizal Ramli didampingi oleh putri sulungnya, Dhitta Puti Sarasvati, seorang penggiat di bidang pendidikan yang juga mengidolakan Gus Dur. Saat tiba keduanya langsung memberikan hormat dan salam kepada Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, istri mendiang Gus Dur, yang duduk di kursi roda di panggung tempat acara berlangsung.
Nampak pula hadir juru bicara presiden Gus Dur, Adhie Massardi, KH Mustofa Bisri dan beberapa tokoh Nahdliyin lainnya.
Acara yang ditutup dengan doa-doa untuk Gus Dur itu berlangsung cukup khidmat. Doa untuk seorang tokoh penting yang pernah dimiliki oleh bangsa ini, dimana peran Gus Dur dapat dilukiskan dalam ungkapan “born to make history” atau lahir untuk membuat sejarah, bukan “born to make story”, atau lahir untuk sekedar membikin cerita, yang tanpa legacy pemikiran dan tindakan yang bermanfaat untuk rakyat, seperti yang nampak pada tabiat penguasa saat ini.(*)
Editor: Nur Komalasari






