Indonesiadaily.net – Paus biru Antartika (Balaenoptera musculus) merupakan hewan terbesar di planet ini dengan berat mencapai 181 ton atau setara 33 gajah dan panjang 30 meter. Seperti apa mamalia laut yang terancam punah ini. Mari kita kenali lebih dalam. Berikut penjelasannya.
Paus biru diketahui hewan terbesar di bumi. Dengan ukuran tubuh yang begitu besar, paus ini memiliki hati seukuran mobil kecil.
Dikutip dari Worl Wild Life, paus biru Antartika selama musim makan utama mengonsumsi sekitar 3,5 ton ikan krill per hari. Dia mampu berusia hingga 80-90 tahun.
Paus ini juga dikenal memiliki suara yang sangat nyaring, yakni mencapai 188 desibel. Sebagai perbandingan, suara pesawat jet mencapai 140 desibel.
Siulan frekuensi rendah mamalia laut ini dapat terdengar hingga ratusan mil dan mungkin digunakan untuk menarik perhatian paus biru lainnya.
Populasi paus biru di Antartika berkurang secara drastis akibat perburuan paus komersial, yang dimulai di Samudera Atlantik bagian selatan pada 1904.
Meski ada perlindungan hukum melalui Komisi Penangkapan Ikan Paus Internasional pada 1960-an, ini tak menghentikan perburuan ilegal hingga 1972.
Dari sekitar 125.000 ekor pada 1926, jumlahnya mencapai berkurang menjadi sekitar 3.000 ekor pada 2018.
Dengan kondisi itu, maka hewan tersebut masuk ke dalam daftar spesies “sangat terancam punah”.
Namun, tim ilmuwan yang dipimpin oleh British Antarctic Survey (BAS) membawa ‘angin segar’ ketika menemukan geromboran besar paus biru Antartika saat ekspedisi di Georgia Selatan pada 2020.
Mereka menghitung 55 paus biru Antartika selama ekspedisi itu dan menggambarkannya sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Karenanya, perairan Georgia Selatan masih menjadi tempat makan musim panas yang penting.
Seorang ahli ekologi paus di BAS, Jennifer Jackson mengatakan, penemuan itu menandakan keberhasilan perlindungan dari perburuan paus.
“Setelah tiga tahun survei, kami sangat senang melihat begitu banyak paus mengunjungi Georgia Selatan untuk mencari makan lagi,” kata dia.
“Ini adalah tempat di mana perburuan paus dan penyegelan dilakukan secara ekstensif,” sambungnya.
Menurutnya, keberadaan paus ini sama dengan kepadatan seabad sebelumnya ketika perburuan paus pertama kali dimulai di Georgia Selatan. (*)
Editor : Nur Komalasari






