Indonesiadaily.net – Video dugaan kekerasan yang dilakukan mantan petinggi OVO, Indrajana Sofiandi, kepada anaknya menjadi perhatian belakangan ini. Sebab, tidak hanya ketika kejadian, trauma dan perbuatan tersebut bisa berpengaruh kepada masa depan anak.
Pada sejumlah video yang viral itu, pelaku melakukan kekerasan kepada sang anak. Sang istri yang terlihat pada kejadian itu mencoba untuk melerai sambil merekam aksi pelaku.
Bahkan anak yang ‘ditempeleng’, itu terlihat tidak kuasa kembali duduk setelah mendapatkan pukulan dari sang ayah. Selesai melakukan pukulan, muka sang ayah masih terlihat kemerahan dengan wajah berang.
Melansir Suara.com, dampak pada anak korban KDRT, bisa berupa fisik, emosional, perilaku, pengetahuan dan sosial. Bahkan efeknya saling tumpang tindih satu sama lain.
Anak yang menjadi korban KDRT secara psikologis efek stres di masa depan bisa lebih parah dari pelecehan seksual.
Bila anak yang alami kekerasan berusia 5 hingga 10 tahun, maka ia bisa sulit berkonsentrasi, alami gangguan tidur, menarik diri dari pergaulan, merasa tidak aman, merasa bersalah, depresi atau sedih terus menerus hingga merasa rendah diri.
Dari sisi perilaku anak yang pernah alami kekerasan atau korban KDRT ia bisa berperilaku yang sulit diprediksi, agresif, mudah marah hingga hiperaktif.
Bahkan disebutkan juga, anak korban KDRT bisa jadi korban atau pelaku bullying pada anak lainnya.
Alasan anak korban KDRT jadi pelaku bullying, karena setelah mereka trauma di rumah ia akan menunjukan kewaspadaan berlebihan di sekolah, bahkan terus menerus takut pada bahaya.(*)
Editor: Nur Komalasari






