Benarkah Santa Claus Itu Ada di Kehidupan Nyata?

sejarah santa claus
Santa Claus atau Sinterklas.

Indonesiadaily.net – Santa Claus atau Sinterklas yang identik dengan momen Natal terinsipirasi dari kisah nyata dan terselip kepentingan untuk iklan perusahaan besar. Jadi, seperti apakah cerita sebenarnya sampai dipercaya keberadaannya?

Santo (Saint) Nicholas merupakan tokoh yang menginspirasi keberadaan Sinterklas. Dia adalah Uskup Myra di sebuah kota Romawi yang kini menjadi Turki. Melansir LiveScience, Santo Nicholas lahir sekitar tahun 270 Masehi dan sejak usia muda sudah menjadi uskup.

Bacaan Lainnya

Dia aktif membantu orang-orang miskin selama hidupnya. Salah satu kisah yang terkenal adalah saat ia membantu membayar mahar gadis-gadis miskin.

Santo Nicholas juga kerap memberikan hadiah secara rahasia kepada orang yang berada di sekitar kota tempatnya tinggal. Caranya, menaruh uang koin di sepatu anak-anak yang memang sengaja menempatkannya demi mendapat hadiah.

Terkadang, Nicholas melakukannya untuk menukar uang dengan sebuah wortel atau jerami untuk kudanya. Saat melakukan kegiatan-kegiatan itulah, Nicholas menurut legenda memakai jubah uskup berwarna merah dan dibantu seorang anak yatim piatu.

Aksinya yang membantu orang-orang teresebut, membuat Nicholas pun dianggap sebagai pembela anak-anak, para pelayar, dan orang Yunani.

Sejumlah arkeolog pun mengungkap lokasi makamnya di kota Demre di Turki. Kota itu dulunya bernama Myra, tempat Santo Nicholas tinggal.

Mengutip ART News, untuk menemukannya, para ahli dari Perlindungan Situs Budaya Provinsi Antalya mencungkil lantai Gereja Santo Nicholas. Sampai akhirnya dengan bantuan alat elektronik, para ahli menemukan ruang kosong antara lantai dan pondasi gereja tersebut.

Awalnya, ruangan tersebut ditujukan untuk tempat peristirahatan Santo Nicholas. Namun para Crusaders memindahkan tulang-tulang Santo Nicholas ke Bari, Italia pada tahun 1087.

Nicholas tetap menjadi figur populer untuk dipuji selama Abad Pertengahan, bahkan hari kematiannya pada 6 Desember kerap diadakan festival dan memberikan hadiah kecil untuk anak-anak dan menaruhnya di sepatu yang dilakukan untuk menghargai Santo Nicholas.

Memasuki Abad ke-16, popularitas Santo Nicholas seiring terdesaknya para santo Katolik karena bangkitnya agama Protestan di beberapa wilayah.

Hanya di Belanda lah, selebrasi mengingat Santo Nicholas tetap lestari dalam bentuk Sinterklaas. Ia didongengkan merupakan figur yang berjalan dari rumah ke rumah pada malam 5 Desember, dengan memberikan hadiah di sepatu anak-anak sebagai ganti cemilan untuk kudanya.

Dalam tradisi Belanda, Sinterklaas mengenakan jubah uskup berwarna merah, memiliki asisten peri, dan menunggang kudanya melewati atap rumah sebelum turun dari cerobong asap untuk mengantarkan hadiah.

Cerita tersebut pun merambah ka tanah Amerika Serikat saat orang-orang Belanda datang pada abad ke-17 dan 18. Nama Sinterklas pun mengalami anglikanisasi menjadi Santa Claus pada 1773.

Dalam sebuah puisi berjudul “A Visit from Saint Nicholas”, atau lebih sering disebut “Twas the Night Before Christmas” karya Clement Moore (1822), Sinterklas dibayangkan mengendarai kereta luncur ajaib yang ditarik oleh rusa kutub.

Ia yang membawa sekarung penuh mainan itu digambarkan memiliki perut bundar, “seperti semangkuk penuh agar-agar.”

Kisah tersebut pun terus berkembang dan menyebar sampai akhir 1800’an.

Legenda Santa Claus terus bertahan seiring dan melekat sampai saat dijadikan iklan Coca Cola yang diciptakan Haddon Sundblom pada 1930-an. Ketika itu, ia menerapkan kostum merah Sinterklas yang brewok putih, bersepatu bot kulit; standar ikonik Santa yang dikenali hingga kini.

Pada 2021, dikutip dari The Independent yang mengutip berita media Italia, Uskup Antonio Stagliano dari Keuskupan Roma di Sisilia, Italia, mengatakan selama festival keagamaan bahwa Sinterklas tidak ada. Ia juga menyebut kostum merah Santa dibuat oleh perusahaan Coca-Cola untuk kepentingan iklan. Meski begitu, figur Sinterklas kemudian dipercaya oleh banyak anak-anak di masa kini.

Profesor dari Department of Psychology di University of Texas, Jacqueline D. Woolley melalui tulisannya di The Conversation mengatakan, orang tua ikut berperan dalam membuat anak-anak mereka percaya Sinterklas. Sebabnya, mayoritas orang tua kerap mengajak anak mereka menemui tiruan Sinterklas di kehidupan nyata.

“Dalam sebuah studi baru-baru ini kami menemukan bahwa 84 persen orang tua dilaporkan membawa anak mereka mengunjungi lebih dari dua peniru Sinterklas selama musim Natal,” tulis Jacqueline.

Orang dewasa juga membantu anak-anak dengan menjejali mereka dengan bukti semisal menaruh lonceng di atap, membuat figur sinterklas di mal, dan wortel yang tergigit separuh pada pagi di hari Natal.

Jacqueline mengatakan pada dasarnya mitos Sinterklas ini bisa membuat anak-anak melatih kemampuan berpikir ilmiah mereka.

Pertama, anak-anak mengevaluasi sumber informasi. Misalnya, anak cenderung lebih percaya orang dewasa ketimbang anak-anak. Kedua, mereka terkadang membutuhkan bukti. Ketiga, anak-anak mulai mengerti hal-hal absurd di sekitar kisah Sinterklas.

“Contohnya adalah bagaimana bisa pria gemuk bisa muat di cerobong asap yang kecil atau bagaimana binatang bisa terbang,” tulis Jacqueline.

Lantas apakah hal ini berbahaya untuk anak-anak? Jacqueline mengatakan belum ada bukti dampak negatif dari orangtua yang menjejali anak mereka dengan kisah Sinterklas.

Sebaliknya, memberikan cerita soal Sinterklas bisa jadi mengasah kemampuan berpikir anak. Meskipun, beberapa ahli mengklaim anak akan menjadi tak percaya secara permanen kepada orang tua mereka karena terus dijejali mitos ini. (*)

 

Editor : Pebri Mulya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *