Indonesiadaily.net – Twitter sedang berupaya mempertahankan pengguna aktifnya. Pasalnya pengguna twitter mulai bosan ngetwit. Padahal pengguna twitter berperan penting pada bisnis perusahaan.
Menurut dokumen penelitian itu, pengguna twitter atau disebut “heavy tweeters”, jumlahnya kurang dari 10 persen dari total pengguna aktif bulanan Twitter.
Meskipun jumlah heavy tweters sedikit, mereka berkontribusi pada 90 persen dari total twit di Twitter dan menghasilkan setengah dari total pendapatan global Twitter.
Penurunan jumlah heavy tweeters menurut peneliti terjadi sejak pandemi dimulai. Adapun mereka yang dikategorikan sebagai heavy tweeters adalah yang login ke Twitter enam atau tujuh hari dalam seminggu, dan nge-twit sekitar 3-4 kali dalam seminggu.
Selain menurun, penelitian juga mengungkapkan adanya pergeseran minat di antara heavy tweeters berbahasa Inggris selama dua tahun terakhir. Hal ini membuat minat pengiklan terhadap Twitter menjadi berkurang karena dinilai kurang menarik.
Topik yang paling diminati oleh heavy tweeters tersebut yaitu soal cryptocurrency dan konten yang “tidak aman”, meliputi konten dewasa dan pornografi. Pada saat yang sama, minat pada berita, olahraga dan hiburan justru berkurang.
Padahal, topik-topik ini lah yang membuat citra Twitter positif dan diminati pengiklan, sehingga disebut “alun-alun kota digital” oleh CEO SpaceX, Elon Musk.
Di sisi lain, topik soal pornografi lebih banyak dihindari oleh pengiklan, karena khawatir merusak citra perusahaan.
Twitter sendiri tak merinci berapa banyak twit berbahasa Inggris atau berapa pundi yang dihasilkan oleh heavy tweeters berbahasa Inggris.
Adapun penelitian ini berperan untuk menyelidiki apa hal yang tren di antara pengguna berubah dan mengapa yang paling aktif nge-twit menurun. Sayangnya studi itu tidak membuat kesimpulan yang spesifik soal alasan heavy tweeters menurun.
Sementara itu juru bicara Twitter berkata bahwa pihaknya memang rutin melakukan penelitian soal tren yang berkembang sesuai dengan tren yang terjadi di dunia.
“Kami secara rutin melakukan penelitian tentang berbagai tren yang berkembang berdasarkan apa yang terjadi di dunia,” kata juru bicara Twitter dikutip Kompas.com .(*)
Editor : Nur Komalasari






