Pebisnis Sukses Chairul Tanjung, Dimulai dari Keuntungan Rp 15.000

chairul tanjung
Chairul Tanjung

Indonesiadaily.net – Chairul Tanjung (CT) kini dikenal sebagai pengusaha yang sukses. CT merambah ke berbagai dunia bisnis, seperti sektor keuangan, media, properti, ritel dan lain sebagainya.

Rangkaian bisnis tersebut, membuat CT termasuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia. Forbes mencatat, pada 2021 CT berada di urutan ke-6 orang terkaya di Indonesia. Saat ini, kekayaan bersih CT mencapai US$ 5,2 miliar atau sekitar Rp 79,56 triliun (asumsi kurs Rp 15.300).

Bacaan Lainnya

Bukan perkara mudah dalam meraih kesuksesan, CT kehidupannya diwarnai dengan perjuangan yang berat. Bahkan, ketika muda ia mendapat uang pertama kuliah berasal dari hasil gadai kain halus sang ibu. Hal itu yang membuatnya bertekad untuk tidak lagi meminta uang kepada orang tuanya dan kemudian memotivasinya untuk melirik peluang bisnis.

Kisah perjuangan CT ini dicertakan dalam bukunya Chairul Tanjung Si Anak Singkong. Buku ini di antaranya bercerita saat CT tinggal dan dibesarkan sampai kuliah di kawasan Gang Abu yakni daerah kumuh di Jakarta pada tahun 70-an.

Kala itu, CT memiliki impian kuliah di perguruan tinggi negeri. Impiannya itu terwujud dengan berhasil diterima di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (UI). Untuk masuk kampus, kala itu ia harus mengeluarkan biaya kuliah sebesar Rp 75.000.

“Total uang yang harus dibayarkan ke kampus saat itu sebesar Rp 75.000. Rinciannya, sebesar Rp 45.000 untuk uang kuliah selama satu tahun dan Rp 30.000 untuk biaya administrasi, uang jaket, dan sebagainya,” tulis CT dalam bukunya itu seperti dikutip Kamis, 13 Oktober 2022.

Biaya kuliah ini, menurut CT, jauh di atas uang jajan teman-teman mahasiswanya yang mayoritas merupakan keluarga berada. Namun, entah bagaimana caranya, sang ibu memintanya untuk menunggu beberapa hari untuk mendapatkan uang tersebut. Sesuai janji, ibunya memberikan sejumlah uang yang ia minta.

“Orang tua kami mempunyai prinsip: ‘Agar bisa keluar dari jerat kemiskinan, pendidikan merupakan langkah yang harus ditempuh dengan segala daya dan upaya’,” ujar CT.

Singkat cerita, pada tahun 1981 CT resmi terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi UI. Namun, kegembiraan CT seketika sirna begitu mengetahui bahwa sang ibu rela menggadaikan kain halus miliknya untuk mendapatkan uang kuliah.

“Chairul, uang kuliah pertamamu yang ibu berikan beberapa hari yang lalu ibu dapatkan dari menggadaikan kain halus ibu. Belajarlah dengan serius, Nak,” tulis CT menirukan kalimat sang ibu.

Seketika juga, CT merasa bumi tempatnya berpijak seolah berhenti berputar, jantung berhenti berdetak, lemah seolah tanpa darah. Ia merasa sangat terpukul.

“Tapi, justru itu semua menjadi pemicu dan sejak itu saya bertekad untuk tidak meminta uang lagi kepada orang tua. Saya harus bisa membiayai semua keperluan kuliah di UI. Saya harus berusaha mencari uang sendiri dengan cara apa pun. Tidak sepeser pun meminta lagi uang kepada ibu. Saya harus bisa! Bismillah!” ujar CT.

Motivasi itu membuat CT melihat berbagai peluang hingga akhirnya bisa menghasilkan Rp 15 ribu pertamanya. Uang itu berasal dari fotokopi buku asisten praktikum, di mana setiap praktikum seluruh mahasiswa wajib punya, diperbanyak dengan fotokopi.
“Saya tanya kepada mereka ongkos fotokopi, semua rata-rata menawarkan tarif Rp 25 per lembar. Berarti, total Rp 500 harus dikeluarkan oleh setiap mahasiswa untuk bisa memfotokopi buku tersebut,” tutur CT.

Ia pun terpikir untuk bertanya kepada temannya yang memiliki usaha percetakan. Rupanya, percetakan itu menyanggupi dengan biaya hanya Rp 150.

“Esoknya kembali ke kampus dan menawarkan kepada teman-teman Rp 300 saja untuk mencetak buku asisten praktikum yang di Jalan Salemba sekitar kampus seharga Rp 500. Sudah barang tentu mereka tidak keberatan dengan selisih harga yang lebih murah itu,” ujar CT.

Dengan margin Rp 150 dikalikan dengan 100 orang teman seangkatannya, CT akhirnya memperoleh Rp 15 ribu pertamanya melalui peluang tersebut. Dirinya percaya, keuntungan Rp 15 ribu yang pertama tersebut merupakan momentum pembangkit kepercayaan diri selanjutnya.

“Puluhan ribu rupiah berikutnya, ratusan ribu selanjutnya, dan jutaan rupiah kemudian merupakan perkara tidak sulit jika semangat dan kepercayaan bisa terus dijaga,” ujar CT. (*)

 

Editor : Pebri Mulya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *