Senin, April 15, 2024

BNPT : KKB di Papua Jadi Faktor Jumlah Korban Terorisme Meningkat

Indonesiadaily.net – Kepala Badan Nasional Penanganan Terorisme Indonesia (BNPT), Komjen Boy Rafli mengungkap, adanya kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua menjadi salah satu faktor jumlah korban terorisme di Indonesia meningkat.

“Di Indonesia terjadi peningkatan jumlah korban terorisme akibat dari kekerasan yang terjadi khususnya di wilayah Papua pada tahun 2021. Hal ini sesuai dengan apa yang dirilis oleh pemerintah bahwa aksi kekerasan oleh kriminal bersenjata di Papua dikategorikan sebagai kejahatan terorisme,” ujar Boy Rafli.

Namun, ternyata data pemerintah tersebut berbeda dengan indeks global terorisme pada 2022 yang menyebutkan terjadi penurunan jumlah korban yang diakibatkan oleh teroris.

“Berdasarkan global terrorism index 2022 yang mengkaji dampak terorisme pada suatu negara, termasuk jumlah korban dan kematian yang diakibatkan oleh terorisme secara umum terjadi penurunan jumlah korban terorisme secara global,” ucapnya.

Baca Juga  Sejarah Soeharto Menggantikan Soekarno Sebagai Presiden Pada 26 Maret 1967

Kemudian, BNPT juga melakukan sejumlah program untuk penyintas terorisme dalam kurun beberapa tahun terakhir. Salah satunya adalah bersinergi dengan LPSK dalam memberi bantuan medis, rehabilitasi psikososial, psikologi, santunan, dan kompensasi terhadap keluarga korban.

“Lebih lanjut BNPT menginisiasi program silaturahmi kebangsaan yang mempertemukan mantan narapidana terorisme dengan penyintas yang bertujuan untuk budaya memaafkan dan rekonsiliasi. Untuk mengatur mekanisme yang aman dan mengutamakan kepentingan terbaik bagi para penyintas, BNPT saat ini sedang menyusun peraturan BNPT tentang rekonsiliasi korban dan mantan narapidana terorisme yang direncanakan akan disahkan akhir tahun 2022,” jelas Boy Rafli.

Dia menyebut rekonsiliasi antara penyitas dan napiter ini merupakan arahan khusus dari Presiden RI Joko Widodo. Ini dilakukan agar bisa saling menyembuhkan trauma buruk terkait terorisme.

Baca Juga  5 Bahasa di Dunia yang Terancam Punah

“Jadi ini juga salah satu upaya. Kita tidak menginginkan adanya semacam pemikiran-pemikiran yang bisa mengarah kepada hal yang sakit hati antara penyintas dan eks napiter, tetap dengan proses berbaur ini proses reintegrasi ini. Itu adalah sebuah upaya untuk kita lupakan masa lalu menatap masa depan dengan lebih optimis hidup bergandengan tangan untuk kita mencegah bersama kejahatan terorisme,” jelasnya. (*)

 

Editor : Pebri Mulya


Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest Articles