Kinerja dan Tantangan Sektor Perikanan di Masa Susi dan Trenggono

 

Indonesiadaily.net – Pembangunan sektor perikanan di Indonesia dalam 12 tahun terakhir, baik perikanan tangkap maupun perikanan budi daya, terus mengalami peningkatan dalam baik dalam hal produksi, kontribusinya pada PDB maupun dari sisi NTN (Nilai Tukar Nelayan). Peningkatan kinerja sektor perikanan nasional ini konsisten, baik selama kepemimpinan menteri Susi Pudjiastuti maupun Trenggono. Hal tersebut disampaikan oleh Teddy Wibisana dalam keterangan tertulisnya

Bacaan Lainnya

Teddy, aktivis sosial yang lama berkecimpung di industri media dan BUMN Farmasi menguraikan, dimasa kementerian KKP dipimpin oleh Susi produksi perikanan meningkat 18% dibandingkan periode sebelumnya, rata-rata mencapai 24.5 juta ton per tahun. Dimasa kepemimpinan Trenggono produksi mencapai diangka 26 juta ton.

“Ada keberlanjutan dari Susi ke Trenggono, dan indikasinya dapat dilihat pula dari kontribusi sektor perikanan terhadap PDB antara 2.5-3%, yang berarti meningkat 50%. Demikian juga dengan Nilai Tukar Nelayan atau NTN, saat akhir jabatannya Susi membuat NTN menjadi 114, dan peningkatan itu berlanjut di masa Trenggono menjadi rata-rata 105-106 pertahun,” ujar Teddy

Menurut Teddy yang membedakan di kedua menteri itu adalah adalah prioritasnya. Menteri Susi menurut Teddy, sangat memprioritaskan perikanan tangkap sekaligus menjaga kelestarian laut dan trumbu karang dengan melakukan zonasi operasi kapal bedasarkan bobot dan pelarangan kapal cantrang. Sedangkan menteri Trenggono fokus tidak hanya pada perikanan tangkap juga budi daya.

“Pelestarian laut juga dipikirkan oleh menteri Trenggono, ada 3 hal yang saya amati dari 5 programnya, yaitu dengan memperluas wilayah konservasi, pembesihan sampah plastik serta penagkapan ikan terukur. Sedangkan perikanan budi daya dilakukan dengan revitalisasi tambak tematik.”

Menuut Teddy fokus kedua menteri itu memiliki tantangan tersendiri. Untuk perikanan tangkap menurutnya, terancam oleh peningkatan harga BBM, apalagi kondisi geopolitik di wilayah Hormuz, membuat harga minyak dunia meningkat. Dan harga pakan relatif tidak stabil.

“Walaupun pakan ikan diproduksi di dalam negeri tapu bahan baku pentingnya (protein) masih impor dari luar negeri. Industrialisasi lebih ke hulu untuk pakan ikan harus dimulai” ujarnya.

Sektor perikanan menurut Teddy masih bisa meningkat lagi kontribusinya terhadap PDB dan NTN, yaitu dengan cara meningkatkan demand atas konsumsi ikan domestik. “Peningkatan konsumsi ikan akan mengurangi konsumsi daging yang sebagian besar impor. Dan nilai nutrisi ikan lebih baik dari daging” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *