Indonesiadaily.net– Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terus memperkuat kompetensi guru dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling (BK) sebagai bagian penting dalam menghadirkan pendampingan yang menyeluruh bagi murid, termasuk di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Upaya tersebut diwujudkan melalui Diseminasi Program Pengembangan Kompetensi Guru dalam Memberikan Layanan Bimbingan dan/atau Konseling pada Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah di Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang melibatkan guru dari Kabupaten Sumba Tengah dan Kabupaten Sumba Barat Daya.
Kegiatan diawali dengan laporan pelaksanaan kegiatan oleh Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Arif Jamali. Dalam laporannya disampaikan pentingnya peningkatan kompetensi guru agar layanan bimbingan dan konseling tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi benar-benar diterapkan dalam praktik pendampingan murid di satuan pendidikan.
Rangkaian pembukaan kemudian dilanjutkan dengan sambutan dan arahan Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Prof. Nunuk Suryani yang hadir secara daring. Dalam arahannya, penguatan kompetensi guru dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling ditekankan sebagai bagian penting dalam membangun ekosistem sekolah yang mampu mengenali kebutuhan dan potensi setiap murid serta memberikan pendampingan yang sesuai dengan tahap perkembangannya.
Penguatan tersebut sejalan dengan substansi program yang menempatkan guru BK sebagai tenaga profesional yang memiliki peran penting dalam layanan bimbingan dan konseling. Di sisi lain, guru non-BK juga perlu memiliki pemahaman dan keterampilan dasar untuk mengenali kebutuhan murid, membangun komunikasi yang empatik, menciptakan suasana belajar yang mendukung, serta berkolaborasi dan melakukan rujukan ketika diperlukan.
Kegiatan ini sedianya dibuka secara langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Abdul Mu’ti, Namun, dalam pelaksanaannya Mendikdasmen diwakili oleh Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T), Dr. Rita Pranawati yang memberikan arahan sekaligus membuka kegiatan secara resmi.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Dinas Pendidikan dan Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Sumba Tengah dan Kabupaten Sumba Barat Daya, perwakilan Dinas Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Timur, BGTK Provinsi Nusa Tenggara Timur, Tim Fasilitator Nasional dan Fasilitator Daerah, serta para guru peserta dari berbagai jenjang pendidikan. Unsur pemerintah daerah dan BGTK juga tercantum sebagai pemangku kepentingan yang dilibatkan dalam kegiatan.
Kompetensi Guru BK Penting untuk Menjawab Persoalan Nyata Murid
Urgensi peningkatan kompetensi guru dalam layanan BK semakin terlihat dari berbagai persoalan pendidikan yang masih dihadapi daerah.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumba Barat Daya dalam kegiatan tersebut melaporkan bahwa masih terdapat sekitar 7.000-an anak pada rentang kelas IV hingga kelas IX yang belum lancar membaca, menulis, dan berhitung (calistung).
Kondisi tersebut memerlukan perhatian dan kolaborasi berbagai pihak. Persoalan belajar murid tidak selalu berdiri sendiri. Di balik ketertinggalan belajar dapat terdapat berbagai faktor yang perlu dikenali dan didampingi, mulai dari motivasi dan kepercayaan diri, kondisi sosial dan keluarga, hingga lingkungan belajar anak.
Karena itu, peningkatan kompetensi guru dalam layanan BK diharapkan dapat memperkuat kemampuan guru untuk mengenali kebutuhan dan potensi murid, membangun komunikasi yang empatik, mendampingi perkembangan pribadi, sosial dan belajar, serta membangun kolaborasi dengan guru lain, orang tua, pemerintah daerah, dan berbagai pihak terkait.
Guru BK tentu tidak menggantikan peran guru dalam memberikan intervensi pembelajaran calistung. Namun, melalui kompetensi bimbingan dan konseling yang semakin kuat, guru dapat berkontribusi dalam mengenali faktor-faktor yang menghambat proses belajar, memperkuat motivasi dan resiliensi murid, serta membantu membangun sistem pendampingan dan rujukan yang diperlukan.
7 Jurus BK Hebat Perkuat Kompetensi Guru
Program pengembangan kompetensi guru tersebut diperkuat melalui pendekatan 7 Jurus BK Hebat, yaitu Kenali Potensi, Kelola Emosi, Tumbuhkan Resiliensi, Jaga Konsistensi, Jalin Koneksi, Bangun Kolaborasi, dan Menata Situasi.
Ketujuh jurus tersebut bukan sekadar materi yang harus diselesaikan selama pelatihan, tetapi menjadi bekal bagi guru dalam menghadapi persoalan nyata ketika mendampingi murid.
Kenali Potensi mendorong guru melihat kekuatan setiap murid. Kelola Emosi membekali guru untuk membantu murid mengenali dan mengelola emosinya. Tumbuhkan Resiliensi membantu murid menghadapi tantangan dan tidak mudah menyerah. Sementara Jalin Koneksi menempatkan komunikasi dan relasi empatik sebagai fondasi pendampingan.
Adapun Bangun Kolaborasi menegaskan bahwa perkembangan murid bukan hanya menjadi tanggung jawab satu orang guru. Prinsip ini menjadi semakin relevan ketika sekolah dan pemerintah daerah menghadapi persoalan pendidikan yang kompleks, termasuk tantangan kemampuan dasar belajar murid.
120 Guru Didorong Menjadi Penggerak
Program ini diikuti 120 peserta dari unsur Guru BK dan guru non-BK pada jenjang SD, SMP, SMA, SMK, dan SLB yang berasal dari Kabupaten Sumba Tengah dan Kabupaten Sumba Barat Daya.
Para peserta tidak hanya diharapkan menjadi penerima pelatihan, tetapi menjadi 120 titik penggerak perubahan praktik pembimbingan dan pendampingan murid di satuan pendidikan masing-masing.
Kegiatan dilaksanakan selama 24 jam pelajaran menggunakan pendekatan experiential learning melalui alur ARKA—Aktivitas, Refleksi, Konseptualisasi, dan Aplikasi. Peserta didorong membawa persoalan nyata dari sekolah, aktif berdiskusi dan melakukan simulasi, kemudian mempraktikkan berbagai pendekatan yang nantinya dapat diterapkan ketika kembali mendampingi murid.
Pelaksanaan program di Sumba Tengah dan Sumba Barat Daya juga diarahkan agar memperhatikan konteks dan kekayaan lokal. Praktik bimbingan dan konseling perlu adaptif, inklusif, menghargai keragaman, serta melibatkan keluarga dan komunitas sebagai mitra pendidikan.
Melalui peningkatan kompetensi ini, guru diharapkan semakin mampu hadir tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendamping yang mampu mengenali potensi, kebutuhan, dan tantangan yang dihadapi setiap murid.
Sinergi Kemendikdasmen, pemerintah daerah, BGTK, dinas pendidikan, satuan pendidikan, guru, orang tua, dan masyarakat menjadi penting agar penguatan kompetensi BK tidak berhenti pada pelatihan, tetapi berlanjut menjadi perubahan praktik pendampingan di sekolah dan memberikan dampak nyata bagi perkembangan murid, khususnya di wilayah 3T.






