Hidup Adalah Keberanian untuk Melawan

 

Indonesiadaily.net – “Kalau mau selamat, diam saja. Kalau mau kaya, korupsi saja. Kalau mau hidup, ya lawan!”

Bacaan Lainnya

Kalimat tersebut bukan lahir dari ruang kuliah yang nyaman ataupun dari meja birokrasi yang licin oleh kepentingan. Ia lahir dari lorong-lorong sejarah yang penuh pergulatan, dari jalanan yang dipenuhi suara protes, dan dari kegelisahan anak-anak muda yang muak menyaksikan ketidakadilan di negerinya sendiri.

Di negeri ini, keselamatan sering kali dianggap identik dengan kepatuhan. Kekayaan kerap diasosiasikan dengan kemampuan memanfaatkan celah kekuasaan, bahkan dengan mengorbankan kepentingan rakyat. Sementara itu, hidup dalam makna yang sesungguhnya justru menuntut keberanian untuk bersikap dan melawan ketidakadilan.

Banyak anak muda dihadapkan pada dua pilihan: menjadi pintar dan patuh atau menjadi sadar dan gelisah. Pilihan pertama menawarkan jalan yang tampak aman. Karier dapat dibangun dengan rapi, relasi dengan penguasa terjaga, dan masa depan terlihat menjanjikan. Namun, di balik kenyamanan itu, masih banyak persoalan yang tidak terselesaikan. Kemiskinan, penggusuran, ketimpangan sosial, serta berbagai bentuk ketidakadilan terus berlangsung di tengah masyarakat.

Ketika korupsi telah dianggap sebagai sesuatu yang lumrah, kejujuran sering kali dipandang sebagai sikap yang naif. Mereka yang memperoleh keuntungan dari praktik-praktik tidak etis disebut pandai memanfaatkan peluang. Sementara itu, mereka yang mempertanyakan keadaan justru dianggap mengganggu stabilitas.

Masyarakat sering diajak untuk bersikap realistis. Namun, dalam banyak kata “realistis” digunakan untuk membungkam kritik.

Pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya diajukan dianggap berbahaya. Kritik dipandang sebagai ancaman. Akibatnya, banyak orang memilih diam demi keamanan diri.

Pertanyaannya, apa arti keselamatan jika harus dibayar dengan hilangnya harga diri? Apa arti kekayaan jika diperoleh dengan mengorbankan nurani? Sejarah bangsa ini tidak dibangun oleh mereka yang memilih jalan paling aman. Sebaliknya, sejarah dibentuk oleh orang-orang yang berani mengambil risiko demi memperjuangkan nilai dan keyakinan.

Melawan tidak selalu berarti melakukan perlawanan fisik atau tindakan kekerasan. Melawan adalah keberanian untuk mengatakan tidak ketika mayoritas memilih mengatakan ya. Melawan adalah menolak menjadi bagian dari kebohongan yang dilembagakan. Melawan adalah mempertahankan akal sehat dan suara hati di tengah tekanan untuk tunduk.

Sikap melawan dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk. Melalui tulisan yang jujur, penelitian yang objektif, diskusi yang kritis, maupun tindakan sehari-hari yang menolak praktik suap dan penyalahgunaan wewenang. Perlawanan sejati tidak selalu berlangsung di jalanan; sering kali ia dimulai dari keberanian individu untuk menjaga integritasnya.

Memang, tidak semua orang mampu mengubah sistem dalam waktu singkat. Namun, setiap orang dapat memilih untuk tidak menjadi bagian dari sistem yang menindas. Setiap individu dapat menolak untuk ikut menggiling mereka yang lemah. Setiap warga negara dapat bersuara ketika menyaksikan ketidakadilan terjadi di sekitarnya.

Anak muda kerap ditakut-takuti dengan ancaman masa depan. Seolah-olah keberhasilan hanya dapat diraih melalui kompromi tanpa batas. Padahal, masa depan yang dibangun di atas kepengecutan dan pengkhianatan terhadap nilai-nilai moral pada akhirnya akan rapuh. Mungkin tampak megah dari luar, tetapi kosong di dalam.

Hidup bukan sekadar bernapas dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hidup adalah keberanian untuk menentukan sikap. Di tengah arus yang membawa banyak orang menuju kenyamanan semu, keberanian untuk melawan ketidakadilan menjadi cara untuk tetap menjaga kemanusiaan.
Sebab, ketika seseorang berhenti mempertanyakan ketidakadilan dan memilih diam terhadap kebohongan, pada saat itulah sebagian dari kemanusiaannya mulai hilang.

Karena itu, jika ingin selamat, seseorang dapat memilih diam. Jika ingin kaya, seseorang dapat memilih jalan korupsi. Namun, jika ingin benar-benar hidup sebagai manusia yang bermartabat, maka keberanian untuk melawan ketidakadilan adalah pilihan yang tidak boleh ditinggalkan.
Melawanlah dengan pikiran yang jernih, hati yang bersih, serta keberanian yang tidak dapat dibeli oleh kekuasaan maupun materi.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *