Cadangan Aluvial Menipis, PT Timah Siapkan Penambangan Laut Dalam hingga Kedalaman 80 Meter

 

Indonesiadaily.net – PT Timah Tbk (TINS) berencana memperluas kegiatan eksplorasi dan penambangan bijih timah ke laut dalam hingga kedalaman 80 meter. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi menipisnya cadangan timah aluvial yang selama ini menjadi sumber utama produksi perusahaan.

Bacaan Lainnya

Direktur Strategi Korporasi dan Pengembangan Usaha PT Timah, Harry Budi Sidharta, mengatakan bahwa perusahaan saat ini tengah mempersiapkan penerapan teknologi baru guna mendukung aktivitas penambangan di wilayah yang lebih dalam.

Menurut Harry, fokus eksplorasi perusahaan kini diarahkan pada cadangan aluvial dalam serta tambang primer untuk menjaga keberlanjutan produksi timah nasional.

Cadangan aluvial yang selama ini menjadi andalan semakin menipis. Karena itu, kami akan melanjutkan eksplorasi ke aluvial dalam dan tambang primer. Ini menjadi fokus utama kegiatan eksplorasi kami,” ujar Harry dalam konferensi pers Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 di Jakarta, Jumat (12/6/2026).

Untuk mendukung rencana tersebut, PT Timah akan menyiapkan armada kapal tambang baru yang dirancang khusus untuk menjangkau lapisan deposit timah di bawah dasar laut. Saat ini, aktivitas tambang laut perusahaan rata-rata beroperasi pada kedalaman sekitar 50 meter.

“Kami membutuhkan kapal-kapal baru karena ke depan penambangan akan dilakukan lebih dalam lagi. Dari yang saat ini sekitar 50 meter, kami menargetkan dapat mencapai kedalaman hingga 80 meter di bawah laut. Kami juga terus mencari teknologi dan peralatan yang lebih prospektif,” katanya.

Selain pengembangan tambang laut, PT Timah juga mulai menggarap potensi tambang primer di darat. Berbeda dengan tambang aluvial, pengolahan bijih timah dari tambang primer memerlukan teknologi yang lebih kompleks karena mineral timah berada di dalam batuan keras.

“Pada tambang primer, proses penambangan dan pengolahannya berbeda. Bijih timah berada dalam batuan sehingga harus digerus hingga sangat halus sebelum dilakukan proses pemisahan mineral,” jelas Harry.

Sementara itu, Direktur Produksi dan Komersial PT Timah, Ilhamsyah Mahendra, menegaskan bahwa perusahaan sedang memperkuat kegiatan eksplorasi untuk memastikan ketersediaan sumber daya dan cadangan jangka panjang.

Menurutnya, PT Timah saat ini memiliki sekitar 800.000 ton sumber daya dan 300.000 ton cadangan timah. Namun jumlah tersebut dinilai belum cukup untuk mendukung visi perusahaan dalam jangka panjang.

“Saat ini kami benar-benar menjalankan eksplorasi secara agresif. Mengamankan sumber daya dan cadangan merupakan fokus utama PT Timah. Kami membutuhkan usia tambang yang lebih panjang untuk mendukung keberlanjutan bisnis,” ujar Ilhamsyah dalam Indonesia Critical Minerals Conference & Expo 2026 di Jakarta.

Ia menambahkan, cadangan yang tersedia saat ini diperkirakan hanya mampu menopang operasi perusahaan selama 10 hingga 15 tahun ke depan. Karena itu, PT Timah terus berupaya menemukan deposit baru dengan memanfaatkan berbagai teknologi modern.

“Kami membutuhkan cadangan yang jauh lebih besar untuk menjamin keberlangsungan operasi dalam jangka sangat panjang. Saat ini kami menggunakan teknologi Geographic Information System (GIS) serta pemantauan menggunakan drone untuk meningkatkan akurasi dan kecepatan eksplorasi,” katanya.

Di samping memperkuat eksplorasi dalam negeri, PT Timah juga membuka peluang ekspansi ke luar negeri guna memperoleh aset pertambangan strategis. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada sumber daya domestik sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok mineral kritis global.

“Kami tidak hanya memperluas kapasitas pemurnian, tetapi juga mencari peluang akuisisi aset tambang di luar Indonesia. Kami terbuka untuk menjalin kemitraan dan kolaborasi dengan perusahaan timah global,” pungkas Ilhamsyah.(*)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *