Terapi Modern Makin Canggih, Tapi Siapa yang Akan Membayar?

 

Indonesiadaily.net – Publik Indonesia mungkin masih mengingat komedian Pepeng yang selama bertahun-tahun berjuang melawan Multiple Sclerosis (MS), penyakit saraf kronis yang perlahan memengaruhi kemampuan bergerak dan aktivitas sehari-hari.

Bacaan Lainnya

Kini, perkembangan terapi modern untuk penyakit langka seperti MS mulai menghadirkan tantangan baru: biaya pengobatan yang mahal dan kebutuhan pembiayaan jangka panjang.

Isu tersebut mengemuka dalam Webinar PERDOKJASI Episode Mei 2026 bertajuk “Perspektif Medical Reviewer Asuransi terhadap Penjaminan Penyakit Langka dan Pilihan Pengobatannya” yang digelar secara daring, Sabtu (23/5), dalam rangka memperingati Hari Bakti Dokter Indonesia (HBDI) ke-118.

Wakil Ketua PERDOKJASI dr. Emira E. Oepangat, FLMI, CFP, AAAIJ, AAAK mengatakan kemajuan teknologi pengobatan membuat sistem kesehatan harus semakin siap menjaga keseimbangan antara kebutuhan pasien dan kemampuan pembiayaan layanan kesehatan.

“Pengabdian dokter hari ini bukan hanya mengobati pasien di ruang praktik, tetapi juga memastikan keputusan dalam sistem kesehatan tetap adil, objektif, dan melindungi pasien,” ujarnya.

Menurut Emira, momentum HBDI menjadi pengingat bahwa peran dokter saat ini semakin luas, termasuk dalam memastikan sistem kesehatan tetap mampu memberikan akses pengobatan yang berkeadilan bagi masyarakat.

Narasumber pertama, Dr. dr. Rocksy Fransisca VS, Sp.N(K), Neurologist Siloam Hospitals Lippo Village, menjelaskan Multiple Sclerosis merupakan penyakit autoimun kronis yang banyak menyerang usia muda produktif dan membutuhkan terapi berkelanjutan untuk mencegah kecacatan.

“Dampaknya bukan hanya gangguan saraf. Penyakit ini bisa memengaruhi kemampuan bekerja, kualitas hidup, kesehatan mental, hingga aktivitas sehari-hari pasien,” kata Rocksy.

Ia mengatakan banyak pasien MS di Indonesia masih terlambat terdiagnosis dan belum mendapatkan terapi optimal karena keterbatasan pemeriksaan dan akses pengobatan.

Menurutnya, terapi yang diberikan lebih dini dapat membantu memperlambat kecacatan dan menjaga kualitas hidup pasien dalam jangka panjang.

Sementara itu, dr. Sigit Adiwijaya, Head of Operation AXA Mandiri, mengatakan perkembangan terapi modern kini menghadirkan tantangan baru dalam sistem pembiayaan kesehatan karena biaya pengobatan terus meningkat.

“Sekarang bukan hanya soal apakah obat bisa menyembuhkan, tetapi juga apakah sistem kesehatan mampu membiayainya secara berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menjelaskan keputusan pembiayaan terapi tidak bisa hanya melihat mahal atau murahnya obat, tetapi juga harus mempertimbangkan manfaat nyata yang diterima pasien, termasuk kualitas hidup dan kemampuan pasien tetap produktif.

Dalam forum tersebut juga dibahas berbagai model pembiayaan baru yang mulai berkembang di dunia, termasuk pembayaran berbasis hasil terapi dan kerja sama pembagian risiko untuk terapi berbiaya tinggi.

PERDOKJASI menilai tantangan pembiayaan penyakit langka akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan seiring berkembangnya terapi modern dan teknologi pengobatan presisi.

Karena itu, dr. Emira menekankan pentingnya kolaborasi antara dokter, rumah sakit, industri asuransi, regulator, dan penyelenggara jaminan kesehatan agar pasien tetap mendapatkan akses pengobatan tanpa membebani keberlanjutan sistem kesehatan nasional.

“Penyakit kompleks dan penyakit langka membutuhkan keputusan medis yang tidak hanya cepat, tetapi juga objektif, berbasis bukti ilmiah, dan mempertimbangkan keberlangsungan sistem kesehatan dalam jangka panjang,” tutupnya.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *