Indonesiadaily.net – Libur panjang belum selesai ketika kabar itu datang dari Sumatera: tanah longsor, sungai meluap, dusun hilang ditelan lumpur. Dan di Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bergerak cepat.
Delapan perusahaan dipanggil. Dicermati. Disisir jejaknya. Karena banjir besar itu tidak datang sendirian. Selalu ada sebab, ada pemicu, ada yang harus dijelaskan.
Senin pagi, 8 Desember 2025. Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq berbicara tenang. Tapi kalimat-kalimatnya menyimpan sesuatu yang tegas.
“Hari ini empat perusahaan. Besok empat lagi,” katanya.
Semuanya beroperasi di hulu DAS Batang Toru. Di sanalah cerita banjir itu bermula.
Empat Perusahaan Dimatikan Sementara
Evaluasi lapangan menunjuk lima DAS yang porak-poranda: Batang Toru, Garoga, Badili, Aik Pandan, dan Sibuluan.
Di hulu Batang Toru, delapan izin usaha berdiri berdempetan. Terlalu dekat dengan bahaya. Terlalu dekat dengan sumber air yang menghidupi ribuan keluarga di bawahnya.
Hanif menyebut empat perusahaan harus dihentikan operasionalnya. Bukan ditutup. Tapi dimatikan sementara untuk memberi ruang evaluasi.
Di antaranya nama-nama besar:
* PT Agincourt Resources
* PTPN III
* PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE), pengembang PLTA Batang Toru
Empat lainnya menunggu giliran verifikasi lapangan.
Langkah berikutnya: audit lingkungan. Pemerintah ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di hulu. Mengapa tanah bisa lepas dari tubuhnya. Mengapa batang-batang kayu bisa jatuh serempak seperti domino yang ditegakkan di lereng.
Garoga: Dusun yang Hilang
Di DAS Garoga, satu desa tertimbun. Benar-benar tertelan. Tidak ada yang bisa diselamatkan dari longsoran di puncak bukit itu. Di sana, berdiri perkebunan kelapa sawit milik swasta.
Hanif melihat sendiri sisa-sisa kayu yang ikut hanyut. “Ada potongan. Tidak banyak,” katanya. Tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ekosistem hulu itu tidak lagi utuh.
Garoga bukan kasus tunggal. Di DAS Badili, gelondongan kayu bergelimpangan menutup ruas kota. Banjir bukan hanya membawa air. Ia membawa masa lalu hutan yang hilang.
Bukit Barisan: Pegunungan yang Tak Pernah Jinak
Sumatera membentang dengan punggung Bukit Barisan. Cantik dilihat dari pesawat. Menakutkan bila ditembus hujan deras.
Di sana, ketinggian turun drastis: dari 1.100 mdpl di Sisingamangaraja, meluncur hampir tegak lurus ke 11–16 mdpl di pesisir. Kemiringan 37 persen.
Dengan kontur seperti itu, satu jam hujan saja sudah cukup membuat lereng rapuh. Apalagi bila akar-akar besar tak lagi memeluk tanah dengan kuat.
KLH masih bekerja. Sungai-sungai masih membawa cerita. Banjir itu, seperti biasa, bukan hanya urusan alam. Ada tangan manusia yang ikut membentuknya. Dan kini satu per satu sedang dibuka.***






