Indonesiadaily.net – Yayasan Mandiri Tunas Global mengadakan acara bertajuk “Pengantar Diskusi Kurikulum Merdeka,” yang dihadiri pemerhati pendidikan, Laras Pitayu, yang juga seorang orang tua murid di Prancis. Acara ini bertujuan untuk mengevaluasi dan membahas penerapan Kurikulum Merdeka di SD Nasional Plus (NP) Tunas Global, serta dampaknya terhadap proses belajar mengajar.
Direktur Pendidikan Yayasan Mandiri Tunas Global, Muhammad Taufiqqurahman, dalam sambutannya menjelaskan bahwa SD NP Tunas Global telah ditetapkan sebagai sekolah penggerak pada tahun 2022. Dengan status tersebut, sekolah ini menjadi pionir dalam implementasi Kurikulum Merdeka.
“Sebagai sekolah penggerak, SD NP Tunas Global memiliki tanggung jawab untuk memberikan pengimbasan kepada sekolah-sekolah sekitar, dengan harapan dapat memperluas dampak positif dari Kurikulum Merdeka,” jelas Taufiqqurahman.
Lebih lanjut, Taufiqqurahman memaparkan struktur Kurikulum Merdeka yang terdiri dari 80 persen pembelajaran intrakurikuler dan 20 persen kegiatan kokurikuler. Pembelajaran intrakurikuler mencakup mata pelajaran dan capaian belajar yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan akademis siswa, sementara kegiatan kokurikuler berfungsi sebagai pelengkap yang mendukung pengembangan keterampilan lain yang esensial bagi siswa.
Sementara itu, Pemerhati Pendidikan Laras Pitayu, berbagi pengalaman dan pandangannya mengenai Kurikulum Merdeka berdasarkan pengamatannya terhadap proses belajar mengajar di kelas III SD NP Tunas Global.
“Proses belajar mengajar di Indonesia, khususnya dengan penerapan Kurikulum Merdeka, sangat menyenangkan bagi anak-anak. Kurikulum ini berhasil menciptakan suasana belajar yang interaktif dan menyenangkan,” kata Laras.
Laras juga membandingkan pendekatan pendidikan di Indonesia dengan yang ada di Prancis tempat anaknya bersekolah sekarang ini, tempat ia pernah tinggal dan mengamati sistem pendidikan di sana.
“Di Prancis, pendidikan dimulai sejak usia dini dengan struktur yang teratur. Hal ini mirip dengan pendekatan yang diambil oleh Kurikulum Merdeka di Indonesia, yang juga menekankan pentingnya penguasaan dasar-dasar seperti bahasa dan matematika sejak dini,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa di kelas III di Prancis, bahasa dan matematika diajarkan setiap hari sebagai dasar untuk mata pelajaran lainnya.
“Bahasa dan matematika menjadi landasan bagi pelajaran lain. Misalnya, dalam pelajaran kerajinan tangan, bahasa digunakan untuk memahami instruksi, sementara matematika digunakan untuk menghitung ukuran dan dimensi,” ungkap Laras.
Acara diskusi ini menjadi momen penting untuk melihat bagaimana Kurikulum Merdeka dapat dioptimalkan dalam mendukung perkembangan akademis dan keterampilan siswa. Yayasan Mandiri Tunas Global berharap bahwa melalui diskusi dan evaluasi semacam ini, Kurikulum Merdeka dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi pendidikan di Indonesia. (*)






