DPRD Jabar Sebut Ekonomi Kreatif Depok Potensial, Tapi Minim Intervensi Pemerintah Kota

DPRD Jabar Sebut Ekonomi Kreatif Depok Potensial, Tapi Minim Intervensi Pemerintah Kota

Indonesiadaily.net – Ketua Fraksi PAN DPRD Jawa Barat HM. Hasbullah Rahmad menyebut Depok memiliki potensi di bidang ekonomi kreatif, namun minim intervensi dari Pemerintah Kota Depok.

“Banyak banget Depok, kita punya pabrik garmen, seni budaya, kreatifitas remaja di bidang IT, kita punya UMKM di bidang kuliner, kita juga bisa mengembangkan industri kreatif dari sisi wisata,” kata Hasbullah usai Sosper di Kecamatan Limo, Rabu, 1 Mei 2024.

Bacaan Lainnya

Hasbullah menuturkan  Pemprov Jawa Barat telah memiliki Perda Nomor 15 Tahun 2017 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif, sehingga Pemkot Depok juga harus membuat Perda turunannya guna memberi jaminan bahwa siapa pun warga Depok yang terjun ke ekonomi kreatif dapat difasilitasi pemerintah.

“Baik dari modal, pemasarannya, tempatnya, nanti kita bangunkan gedung creative Center di Depok dari Pemprov Jabar,” tutur Hasbullah.

Perencanaan pembuatan Creative Center sendiri sudah ada, bahkan dalam Perda Nomor 15 Tahun 2017 terdapat poin bahwa tiap kabupaten/kota di Jawa Barat akan dibangunkan Creative Center.

“Sebagaian daerah sudah kita bangun, cuma di Depok belum kebagian, kan harus gantian,” paparnya.

Ditanya realisasi pembangunan creative center di Depok, Hasbullah mengatakan saat rapat anggaran tahun 2025 ia berjanji akan menyuarakan hal itu.

“Sukur-sukur bisa Ridwan Kamil lagi yang terpilih (Gubernur Jawa Barat), karena kan program beliau waktu itu, bisa lanjut,” katanya.

Ditanya intervensi dari Pemkot Depok terkait pelaku ekonomi kreatif, Hasbullah menilai tidak ada Pemkot Depok, bahkan saat ia menjaring aspirasi mendapat keluhan dari masyarakat.

“Ada ibu-ibu yang bilang anaknya pintar merakit komputer tapi kan bingung tidak ada bantuan,” terangnya.

Disinggung terkait wirausaha baru (WUB) yang menjadi janji kampanye Wali Kota Depok Mohammad Idris dan Wakil Wali Kota Imam Budi Hartono, Hasbullah menerangkan program tersebut sebatas pelatihan dan tidak menyelesaikan masalah.

“Sekarang orang dilatih, tidak bisa menyulam jadi bisa nyulam, tidak bisa masak jadi bisa masak, tidak bisa merias jadi bisa merias, lah kalau dia tidak dikasih modal sama alatnya di lapangan, memang dia dapat uang, lah kagak,” terang Hasbullah.

Menurut Hasbullah, program tersebut tidak menyentuh dari hulu hingga hilir, seperti memberikan pelatihan tata boga, setelah pelatihan dibuat kelompok dan diberikan modal serta dibantu pemasarannya.

“Bila perlu dibuat tempat khusus, kawasan kuliner khas Kota Depoi, buat di pinggir situ, buat yang indah, mana tahu orang masuk ke situ orang mau makan apa saja ada di sana, dari makanan zaman dulu sampai modern ada,” ujarnya.

Tinggal disiapkan sarana pendukungnya, seperti musala, toilet dan lahan parkir yang memadai, hingga ada panggung untuk live music.

“Undang budayawan lokal untuk manggung, orang enggak ke mana-mana, meser (beli) semua di situ, sekarang orang makan geplak (makanan khas Betawi) kan cuma hajatan doang, tidak hajatan ya tidak ada,” katanya.

“Maksud saya, orang yang mau makan harian di mana carinya, tidak ada, wajik, dodok, geplak, kan cuma ada saat di hajatan, padahal itu kan makanan ciri khas kita,” imbuhnya.

Karenanya Hasbullah yang juga Sekretaris DPW PAN Jawa Barat ini mendorong agar Pemkot Depok membuat sebuah kawasan yang memiliki ke khasan terkait Kota Sejuta Maulid.

“Seperti kawasan kuliner khas Kota Depok, kan situ aset pemprov, bisa kita kasih kerjasama, pakai situ mana yang indah mau dia pakai, silahkan tidak apa-apa,” ucap Hasbullah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *