Indonesiadaily.net – Pabrik kecantikan dan kosmetik L’Oreal yang berada di Indonesia ternyata dinobatkan sebagai pabrik terbesar di dunia. Pabrik L’Oreal memiliki luas lebih dari 20 hektar dan bangunan seluas 66 ribu meter persegi di kawasan Jababeka, Cikarang, Jawa Barat. Selain itu, L’Oreal melalui PT Yasulor Indonesia juga menjadi salah satu pelaku industri kecantikan dengan jumlah ekspor terbanyak di Indonesia.
Chief of Corporate Affairs, Engagement, and Sustainability L’Oreal Indonesia, Melanie Masriel, mengatakan bahwa L’Oreal Indonesia telah mengekspor lebih dari 50 persen produk kecantikan ke 18 negara di dunia, terutama Asia Tenggara (ASEAN).
“Di Asia Tenggara cuma satu. Jadi, kita ekspor ke 18 negara. Semua dari Indonesia,” kata Melanie.
Melanie mengatakan, L’Oreal Indonesia telah mengekspor 57 persen produk kecantikan yang dinaungi perusahaannya ke 18 negara, termasuk Asia Tenggara dan Rusia. Namun, ia belum dapat menyebutkan secara pasti berapa nilai ekspor yang telah dihasilkan L’Oreal.
“Jadi, semua produk yang kita produksi di sini itu 57 persen untuk ekspor, lebih banyak daripada buat domestik. Kita ekspornya itu ke 18 negara. Semua Asia Tenggara pasti ada, kayak Vietnam, Thailand, Singapura, Malaysia, Kamboja, Myanmar. Bahkan ada Rusia,” ungkap Melanie.
“(Produk yang paling banyak diekspor) Garner, Maybelline, sebagian L’Oreal Paris, ada juga L’Oreal Professionnel. Namun paling banyak Garnier,” lanjutnya.
L’Oreal Indonesia resmi mengumumkan bahwa pihaknya berhasil menggunakan energi terbarukan 100 persen di seluruh situs produksinya di Indonesia. Hal ini sebagai upaya untuk mendukung pemerintah dalam menekan jumlah emisi karbon.
Direktur Pabrik L’Oreal Indonesia, Hassan Asif, mengungkapkan bahwa selain penggunaan boiler listrik, L’Oreal Indonesia mengaku telah memaksimalkan penggunaan air di seluruh operasi pabrik sebagai upaya untuk menjadi pabrik waterloop pada 2026.
“Kami melakukan pengolahan air limbah untuk memproses limbah dan menggunakannya kembali sebagai bahan bakar semen alternatif untuk industri semen,” tandasnya.(*)
Editor : Nur Komalasari






