Ribuan Anak di China Kena Pneumonia “Misterius”, DKI Jakarta Tiga Orang,   Apa Itu Mycoplasma Pneumonia?

Mycoplasma Pneumonia.(istimewa/indonesiadaily.net)

Indonesiadaily.net – Dinas Kesehatan DKI Jakarta belum lama ini mengonfirmasikan ada tiga kasus anak mengalami Mycoplasma pneumonia.
Kasus tersebut ditemukan pada awal hingga pertengahan November 2023 lalu.
Saat ini para penderita sudah dinyatakan sembuh setelah isolasi selama 10 hingga 14 hari. Lalu sebenarnya, apa itu Mycoplasma pneumonia? Berikut penjelasannya.

Kepala Seksi Surveilans, Epidemiologi, dan Imunisasi Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta, dr. Ngabila Salama,
mengungkapkan, ketiga pasien tersebut mengalami gejala berupa demam, batuk, mual, dan rokhi atau suara napas tambahan yang bernada rendah akibat penyumbatan jalan napas dari lendir.

Bacaan Lainnya

Saat ini, Mycoplasma pneumonia diduga sebagai penyebab utama penyakit pneumonia ‘misterus’ yang menjangkit ribuan anak di China. Tidak hanya China, penyakit ‘misterius’ itu juga mulai menyebar ke Eropa.

dr. Erlina mengatakan, Mycoplasma pneumoniae adalah salah satu bakteri penyebab pneumonia di dunia. Menurutnya, peningkatan kasus Mycoplasma pneumoniae dapat disebabkan oleh protokol kesehatan yang sudah tidak ditetapkan sejak Covid-19 berakhir sebagai pandemi.

“Kenapa di bulan November ini terjadi peningkatan (kasus infeksi saluran pernapasan) di China? Barangkali bisa jadi karena protokol kesehatannya sudah tidak dilaksanakan,” kata dr. Erlina seperti dikutip dari CNBC Indonesia.

Dirinya melanjutkan bahwa Mycoplasma pneumoniae adalah bakteri yang ditularkan melalui cairan droplet di udara dan dapat menimbulkan gejala khas berupa batuk hingga beberapa minggu atau bulan.

“Mycoplasma ini adalah bakteri yang berukuran sangat kecil, memiliki genomen pendek hanya 0,58 hingga 2,20 Mb dan ditularkan dengan cairan droplet melalui udara,” jelas dr. Erlina.

Selain batuk yang dapat memburuk dan dapat bertahan hingga beberapa minggu atau bulan, Mycoplasma pneumoniae juga ditandai dengan gejala lainnya yang umumnya muncul satu hingga empat minggu setelah terinfeksi, yakni sakit tenggorokan, lemas, demam, nyeri kepala, ditemukan efusi pleura (penumpukan cairan di rongga pleura) atau eksaserbasi, Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK).

“Sementara itu gejala yang timbul pada anak-anak di China itu bersin-bersin, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, mata berair, kadang-kadang ada mengi atau wheezing napasnya berbunyi, bahkan kalau batuknya terlalu sering bisa muntah dan diare,” tutupnya.(*)

Editor : Nur Komalasari

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *