Diperkirakan Membludak, Pemburu Sunrise Saat Tahun Baru Diimbau Tidak Berangkat H-1

Matahari terbit di Gunung Slamet, Jawa Tengah.(istimewa/indonesiadaily.net)

 

Indonesiadaily.net – Selain berkumpul dengan keluarga, karya wisata juga hal yang biasa dilakukan saat jelang Tahun Baru. Salah satunya wisata alam seperti mendaki gunung untuk melihat matahari terbit atau sunrise. Alih-alih tak kebagian tempat menikmati sunrise, sebaiknya pendaki diharap tidak berangkat sehari sebelum tahun baru.

Bacaan Lainnya

Hal tersebut diungkapkan Ketua Asosiasi Pendaki Gunung Indonesia (APGI) Jawa Tengah, Dasirun. Diperkirakan puncak gunung dipadati sekitar 1.500 hingga 2.000 pendaki yang melakukan camping dan berburu sunrise. Sehingga kemungkinan besar pendaki sudah tidak kebagian tempat untuk mendirikan tenda.

“Lebih baik berangkat tanggal 29 atau 30 Desember supaya bisa mencari tempat untuk mendirikan tenda camping,” tutur Dasirun seperti dikutip Kompas.com.

Menurut catatannya, terdapat sekitar 2.000 pendaki yang menaiki setiap gunung di tahun baru. Kecuali Gunung Merbabu yang membatasi jumlah pendaki.

“Kalau Gunung Merbabu ada pembatasan jumlah pendaki dengan sistem kuota,” lanjutnya.

Sementara gunung yang paling ramai dikunjungi pendaki biasanya ialah Gunung Slamet. Namun gunung itu ditutup karena aktivitas vulkanik.
Sebenarnya Gunung Slamet biasanya yang paling ramai.

“Saat ini tutup karena aktivitas vulkanik. Prediksi saya para pendaki akan terkonsentrasi di gunung area Kedu seperti Sindoro, Sumbing, Kembang, dan Prau,” ungkapnya.

Pihaknya menegaskan bila mendaki gunung bukan wisata biasa. Sehingga para pendaki perlu menyiapkan fisik dan mental, serta perlengkapan dan perbekalan agar pendakian lancar dan nyaman.

“Ini wisata minat khusus maka perlu persiapan khusus juga. Saat ini masih musim penghujan jangan lupa jas hujan,” ujarnya.

Terakhir, dia meminta pendaki memahami kemampuan diri dan tidak memaksa diri mencapai puncak jika fisik dan mental tidak memungkinkan.

Terpisah, Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah juga memprediksi pada malam tahun baru, salah satu titik paling ramai itu di pendakian.

“Ini tolong diperhatikan dan dipersiapkan secara baik tentang update kondisi jalur pendakian, kemudian daya tampung dari puncak yang akan dinaiki,” ujar Kabid DTW Disporapar Jateng Riyadi.

Meski belum memberlakukan pembatasan, pihaknya meminta pengelola menerapkan sistem buka tutup bila daya tampung sudah penuh. Hal itu dinilai perlu dilakukan di semua daya tarik wisata baik alam maupun non-wisata alam.

“Belum ada pembatasan, tapi kami imbau untuk menghitung daya tampung dan jika sudah terpenuhi, diterapkan sistem buka tutup, kemudian menyediakan DTW terdekat yang bisa dikunjungi wisatawan,” tandasnya.(*)

 

Editor : Nur Komalasari

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *