Olahraga Saat Sakit, Bolehkah? Ini Penjelasannya

Olahraga intensitas ringan boleh dilakukan saat sakit.(istimewa/indonesiadaily.net)

Indonesiadaily.net – Saat merasa sedang tidak enak badan, sebagian besar orang akan lemas dan malas untuk melakukan apa pun. Namun pernahkah Anda justru ingin tetap bergerak seperti melakukan  olahraga saat sakit? Agar tak salah langkah, simak penjelasannya dari ahli berikut ini!

Saat seseorang mengalami sakit meskipun tak bergerak atau bahkan melakukan apa-apa ternyata tubuhnya tetap mengeluarkan energi. Hal ini diungkap oleh seorang dokter keluarga bernama Dr. Navya Mysore melalui Women’ Health. Dirinya menjelaskan jika selama sakit, banyak energi yang dikeluarkan tubuh untuk melawan virus atau bakteri.

Bacaan Lainnya

Seorang dokter spesialis kedokteran olahraga bernama Dr. Kenton H. Fibel, MD  mengungkap, olahraga dengan keras saat sakit membuat tubuh lebih sulit melawan infeksi. Tak hanya itu sering kali justru membuat seseorang membutuhkan waktu yang lebih lama untuk bisa sembuh. Sebaliknya, berolahraga dengan intensitas rendah saat sakit ringan dapat memberikan manfaat baik bagi kesehatan.

Salah satunya meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan mendorong produksi hormon endorfin yang membantu perasaan lebih baik. Namun hal ini tak boleh dilakukan sembarangan. Ada beberapa jenis penyakit yang tetap diperbolehkan berolahraga, tapi ada juga yang tidak dianjurkan.

Seperti dirangkum melalui Healthline, sejumlah gejala yang aman untuk tetap berolahraga di antaranya ada kedinginan yang ringan, nyeri telinga, hidung tersumbat, hingga sakit tenggorokan ringan. Sebaliknya, saat mengalami beberapa gejala berat tidak dianjurkan untuk melakukan olahraga. Misalnya ketika mengalami demam, batuk, dan flu.

Lantas apa olahraga intensitas rendah yang dapat dilakukan ketika mengalami sakit ringan seperti yang telah disebutkan sebelumnya? Masih dilansir dari sumber yang sama, latihan terbaik yang bisa dilakukan di antaranya ada jalan-jalan, joging ringan, sepeda statis, hingga peregangan intensitas rendah.(*)

Editor : Nur Komalasari

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *