Jadi Rempah Termahal di Dunia, Ini Ternyata Manfaat Saffron bagi Kesehatan

Saffron (istimewa)

Indonesiadaily.net – Saffron adalah rempah termahal di dunia. Setiap 450 gramnya saja bisa dihargai antara Rp7.800.000 hingga Rp78.515.000. Harganya yang mahal disebabkan karena cara pemanenannya yang sulit serta biaya produksi yang mahal. Lalu, apa sih manfaat saffron bagi kesehatan? Berikut penjelasannya.

Saffron dipanen dengan tangan dari bunga Crocus sativus yang biasa dikenal dengan nama saffron crocus. Istilah “saffron” mengacu pada struktur bunga seperti benang yang disebut kepala putik.

Bacaan Lainnya

Kemungkinan besar saffron berasal dari Iran. Di wilayah itu, saffron dikenal karena khasiatnya seperti salah satu meningkatkan daya ingat. Berikut khasiat dan manfaat saffron untuk kesehatan, seperti dikutip dari Healthline.

1. Sebagai antioksidan

Antioksidan yang kuat Saffron mengandung beragam senyawa tumbuhan yang mengesankan. Ini bertindak sebagai antioksidan, yakni molekul yang melindungi sel Anda dari radikal bebas dan stres oksidatif. Antioksidan yang terkandung di saffron antara lain, crocin, crocetin, safranal dan kaempferol.

2. Meningkatkan mood dan meminimalisir gejala depresi

Manfaat saffron yang menarik adalah dapat membantu memperbaiki mood atau suasana hati. Oleh karenanya, saffron dijuluki sebagai bumbu sinar matahari. Hal ini bukan hanya karena warnanya yang berbeda, tetapi juga karena dapat membantu mencerahkan suasana hati. Dalam tinjauan terhadap lima penelitian.

Penelitian lain menemukan bahwa mengonsumsi 30 mg saffron setiap hari sama efektifnya dengan Fluoxetine, Imipramine, dan Citalopram yang merupakan pengobatan konvensional untuk depresi. Selain itu, lebih sedikit orang yang mengalami efek samping dari kunyit dibandingkan pengobatan lainnya.  Namun penelitian yang lebih lama dengan lebih banyak peserta diperlukan sebelum para ahli dapat merekomendasikan manfaat saffron sebagai pengobatan depresi.

3. Memiliki sifat melawan kanker

Saffron kaya akan antioksidan, yang membantu menetralisir radikal bebas berbahaya. Kerusakan akibat radikal bebas telah dikaitkan dengan penyakit kronis, seperti kanker. Dalam penelitian tabung reaksi, saffron dan senyawanya telah terbukti membunuh sel kanker usus besar secara selektif atau menekan pertumbuhnnya, namun tidak membahayakan sel-sel sehat.

Meskipun temuan dari penelitian tabung reaksi ini cukup menjanjikan, efek antikanker saffron pada manusia masih kurang dipelajari, dan diperlukan lebih banyak penelitian.

4. Mengurangi gejala PMS

Sindrom pramenstruasi (PMS) adalah istilah yang menggambarkan gejala fisik, emosional, dan psikologis yang terjadi sebelum dimulainya periode menstruasi.
Studi menunjukkan bahwa saffron dapat membantu mengatasi gejala PMS. Pada wanita berusia 20–45 tahun, mengonsumsi 30 mg kunyit setiap hari lebih efektif daripada plasebo dalam mengobati gejala PMS, seperti mudah tersinggung, sakit kepala, mengidam, dan nyeri.

5. Membantu menurukan berat badan

Ngemil adalah kebiasaan umum yang dapat menyebabkan berat badan bertambah.

Menurut penelitian, saffron dapat membantu mencegah ngemil dengan membatasi nafsu makan. Dalam sebuah penelitian selama 8 minggu, wanita yang mengonsumsi suplemen saffron merasa jauh lebih kenyang, lebih jarang ngemil, dan kehilangan berat badan jauh lebih banyak dibandingkan wanita yang tidak mengonsumsi saffron.

6. Menurunkan kadar gula darah

Saffron dapat menurunkan kadar gula darah dan meningkatkan sensitivitas insulin, seperti yang terlihat dalam penelitian tabung reaksi dan tikus dengan diabetes.

7. Meningkatkan daya ingat

Mengonsumsi saffron dapat meningkatkan daya ingat pada orang dewasa dengan Alzheimer. Ini karena sifat antioksidan saffron dapat meningkatkan kognisi.

Pada umumnya saffron aman dikonsumsi dan tidak memiliki efek samping. Sebagai suplemen makanan, seseorang dapat dengan aman mengonsumsi hingga 1,5 gram kunyit per hari.

Namun, hanya 30 mg saffron per hari telah terbukti cukup untuk mendapatkan manfaat kesehatannya. Sebaliknya, dosis tinggi 5 gram atau lebih dapat menimbulkan efek toksik. Selain itu, seperti halnya suplemen apa pun, akan lebih baik untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan sebelum memutuskan untuk mengonsumsi saffron dalam bentuk suplemen.(*)

Editor : Nur Komalasari

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *