Indonesiadaily.net – Melatih mental anak merupakan tugas orang tua yang harus dilakukan sedini mungkin. Melatih anak memiliki mental yang kuat merupakan aset yang baik agar dapat mengarungi kehidupan sosial.
Melansir berbagai sumber, memiliki mental yang baik akan berpengaruh dalam pikiran positif. Dampaknya, anak dapat mengatasi segala persoalan yang ada.
Ketika dewasa, memiliki mental yang baik karena hal tersebut merupakan landasan agar dapat melakukan aktivitas secara produktif juga mengoptimalkan potensi yang dimiliki.
Anak yang memiliki mental baik mampu menjadi lebih mandiri. Selain itu dapat membantu anak-anak dalam mengembangkan kekuatan mental seperti ketahanan, optimisme, dan pemecahan masalah, hal tersebut penting dalam menghadapi tantangan di sekolah.
Berikut ini cara yang dapat dilakukan orang tua untuk menumbuhkan mental yang kuat kepada anak, seperti dilansir dari berbagai sumber.
1. Latih si Kecil Menentukan Pilihan
Cara melatih mental tangguh yang pertama adalah dengan membiarkan si Kecil untuk menentukan pilihan sendiri. Dengan membiarkan si Kecil menentukan pilihan, Mama membantunya memiliki “sense of power and control” atas suatu situasi dalam hidupnya.
Dengan terekspos pada “sense of power and control” rasa percaya diri si Kecil akan meningkat. Sehingga, di dalam kehidupannya kelak ia dapat mengambil berbagai keputusan penting dengan lebih logis, mandiri, dan berani.
2. Ajarkan Keterampilan Sosial
Salah satu alasan si Kecil menjadi pribadi yang mudah malu dan takut adalah ia tidak tahu bagaimana cara berinteraksi dengan orang lain.
Untuk mengurangi stranger anxiety, penting bagi Mama mengajarkan si Kecil cara bersosialisasi yang baik agar si Kecil lebih berani untuk bertemu dan berinteraksi dengan orang lain. Caranya adalah:
Membuat bonding yang baik dengan si Kecil. Ketika anak memiliki ikatan yang baik dengan pengasuh utama, yang biasanya adalah orang tua, ia akan memiliki attachment alias kedekatan yang baik.
3. Ajarkan Anak untuk Bersyukur
Menurut penelitian yang dirangkum dalam Journal of Happiness Studies, dinyatakan bahwa rasa bersyukur berhubungan erat dengan rasa bahagia pada anak berusia 5 tahun.
Pernyataan tersebut berarti, kemampuan untuk bersyukur sejak dini dapat membantu si Kecil untuk tumbuh sebagai orang dewasa yang bahagia dan optimis dalam menjalani kehidupan.
Yah, walaupun kita tahu bahwa bersyukur merupakan konsep level tinggi yang cukup sulit untuk diajarkan kepada anak yang umumnya masih fokus pada keinginan dan sudut pandang mereka sendiri.
4.Jangan Selalu Melindungi Anak
Dalam menjalani kehidupan anak pasti akan mengalami Kesedihan, terluka, dan kecemasan. Terkadang kita perlu membiarkan anak merasakan berbagai macam emosi tersebut, agar mereka memperoleh kepercayaan diri dan kemampuan untuk menangani kesulitan hidup yang tidak bisa dicegah.
Sebagai orang tua terkadang kita hanya cukup memberikan dukungan dan bimbingan saat anak menghadapi ketidaknyamanan agar dapat belajar dari rasa sakit.
5. Libatkan Anak Dalam Pemecahan Masalah
Saat anak mengalami kesulitan dalam pemecahan masalah, ada baiknya menahan diri untuk menolong. Ada saatnya kita hanya memberikam dorongan agar bisa mengembangkan solusinya sendiri.
6. Bantu si Kecil untuk Mengelola Emosi dengan Sehat
Tidak seperti orang dewasa, umumnya anak-anak masih kesulitan dalam mengenali emosi apa yang sedang mereka rasakan.
Oleh karena itu, anak-anak di usia dini masih suka tantrum atau rewel ketika mengalami suatu perubahan yang membuatnya tidak nyaman.
Si Kecil akan butuh banyak dukungan dari orang tua sampai mereka dapat mengenali dan mengekspresikan perasaannya dengan cara yang sehat.(*)
Editor: Nur Komalasari






