Ikan-ikan di Rusia Belum Terpapar Limbah Nuklir Jepang

nelayan rusia dan limbah
Ilustrasi

Indonesiadaily.net – Ikan yang ditangkap dari laut Timur Jauh Rusia pasca aksi Jepang yang membuang air limbah dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima ke laut ternyata tidak menunjukkan tingkat radiasi yang membahayakan. Informasi ini disampaikan oleh Rosselkhoznadzor, badan pengawas hewan dan fitosanitasi Rusia.

Dilaporkan oleh Rosselkhoznadzor, mereka telah memeriksa 443 sampel dari berbagai produk ikan, yang meliputi cod, fluke, walleye pollock, halibut, salmon, kepiting, kerang, serta produk makanan kaleng. Semua sampel tersebut telah dianalisa oleh tim ahli.

Bacaan Lainnya

“Berdasarkan hasil pemeriksaan, tidak ditemukan tingkat radiasi yang melebihi batas pada produk-produk tersebut. Semua berada dalam batas yang aman bagi konsumsi,” kata Rosselkhoznadzor. Lembaga ini menambahkan bahwa temuan ini menunjukkan produk ikan yang diuji aman untuk dikonsumsi.

Sebagai catatan, laboratorium Rosselkhoznadzor di Timur Jauh telah rutin melakukan pemantauan terhadap produk ikan. Namun, intensitas pemantauan meningkat sejak Tokyo mengumumkan rencananya untuk membuang air limbah radioaktif yang berasal dari PLTN Fukushima yang rusak akibat gempa bumi dan tsunami pada Maret 2011.

Air limbah tersebut sebenarnya digunakan untuk mendinginkan reaktor nuklir agar tidak mencair sepenuhnya. Meski pemerintah Jepang berpendapat bahwa cairan tersebut sudah aman, tindakannya mendapat tentangan dari beberapa negara tetangga, seperti China, Korea Selatan, dan Korea Utara. Pemerintah Beijing bahkan mengambil langkah drastis dengan melarang impor produk makanan laut dari Jepang, dengan alasan tindakan Jepang dinilai “sangat egois dan tidak bertanggung jawab.”

Dalam rangka meredam kekhawatiran publik dan masyarakat internasional, Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida bersama tiga menteri kabinetnya mengadakan acara makan bersama pada Rabu. Mereka menikmati sashimi dari gurita dan ikan bass yang ditangkap dari perairan Fukushima. Kishida memuji rasa makanan tersebut dan menekankan bahwa makanan laut dari Fukushima tetap aman dan lezat.

Aksi serupa juga ditunjukkan oleh Duta Besar AS untuk Jepang, Rahm Emanuel. Dalam kunjungannya ke kota Fukushima, Emanuel makan siang bersama wali kota dan menikmati hidangan seafood lokal. Ia menegaskan bahwa tindakan diskriminasi ekonomi dan disinformasi terhadap Jepang sebagian besar didorong oleh narasi China. Emanuel menyatakan bahwa AS akan mendukung Jepang di forum internasional seperti Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), terutama jika Jepang memutuskan untuk mengajukan keluhan terkait larangan impor oleh China.

“Alasan dukungan AS bukan hanya berdasarkan hubungan sekutu, tapi juga karena kasus yang diajukan oleh Jepang memiliki dasar yang kuat,” tutur duta besar tersebut. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *