Indonesiadaily.net – Universitas Gunadarma (UG) berkomitmen untuk menghadirkan inovasi untuk solusi kekurangan energi. Salah satunya dengan membuat mobil listrik hasil karya dosen dan mahasiswa.
Rektor Universitas Gunadarma, Prof Margianti mengatakan, mobil listrik ini merupakan hasil konversi mobil konvesional berbahan bakar minyak yang dia klaim memiliki sejumlah keunggulan dari mobil listrik lainnya.
“Dalam kondisi ini sebetulnya Universitas Gunadarma ikut prihatin dengan kekurangan energi, sehingga kita mengupayakan memanfaatkan berbagai hal, berkaitan dengan energi keterbaruan. Salah satunya kan yang menghabiskan bahan bakar ini mobil, jadi bagaimana, sekaligus saat ini sudah jamannya mobil listrik, jadi Gunadarma mengkonversi semua yang ada itu dengan energi listrik, ” kata Margianti di UG Technopark yang berada di kawasan, Bogor, Kamis (28/9).
Menurut dia, riset kendaraan listrik telah dilakukan sejak 2017. Bukan tidak mungkin, nantinya, Universitas Gunadarma mengembangkan kendaraan dengan bahan baku lainnya.
“Mungkin juga nanti, bisa listriknya itu berasal dari Matahari, saya rasa ini pembuka saja. Tapi listrik itu keterbaruan kan dari arah mana saja. Jadi karena kondisi energi kita harus mencari mana yang baru dan terbarukan. Ini electrik vehicle, jadi bukan hanya mobil, jadi bisa apa saja, ” jelas dia.
Sementara itu, Penanggung Jawab Perencanaan dan Pengembangan UG Technopark, Prof Budi Hermana, memaparkan, mobil listrik ini diberi nama UG EVe yang sebelumnya merupakan mobil pabrikan yang dirubah menjadi mobil listrik.
Mobil listrik ini memiliki sejumlah kelebihan dari mobil listrik lainnya, dimana lebih fleksibel dalam pengisian daya. Hal tersebut memungkinkan karena colokan yang digunakan telah disesuaikan. Selain itu, pengisian daya bisa dilakukan di semua unit Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan juga PLN.
Mobil listrik ini dapat melaju dengan kecepatan 45 kilometer perjam dengan pengisian daya dari nol hingga penuh selama delapan jam.
“Bisa mengisi daya di tempat, di rumah juga bisa karena colokan kita universal. Arus pengisian bisa dikecilkan. Kalau mobil listrik yang lain tidak. Selain itu part mobil yang digunakan bisa didapatkan di negeri sendiri. Lalu kalau batery bermasalah bisa diganti persel. Jadi lebih mudah, lebih murah dan cepat, ” ucap dia.
Dalam proyek ini, UG memanfaatkan mobil yang memiliki usia tua untuk diubah menjadi mobil listrik.
“Kalau mobil lama dengan energi fosil itu kan polusinya luar biasa. Kita memanfaatkan mobil yang ada. Indonesia itu kan terkenal dengan populasi mobil dan motornya yang luar biasa. Kita memanfaatkan itu, ” sebut dia.(*)
Editor: Nur Komalasari






