Indonesiadaily.net – Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) dan Peduli ASD berkolaborasi dengan Sekolah Nasional Plus (NP) Tunas Global Kota Depok mengadakan sosialisasi kepada guru tentang Peduli Autistik, Sabtu 12 Agustus 2023.
Kegiatan tersebut, diikuti seluruh guru dari Sekolah NP Tunas Global, mulai dari jenjang TK, SD, dan SMP.
Guru Besar Fakultas Kedokteran UI, Prof. Rini Sekartini mengatakan, perlu adanya lahan untuk anak autistik memiliki lahan bersosialisasi dengan teman sebaya. Karena, anak autistik tidak mudah untuk bersosialiasai. Terutama, lahan sosial yang merupakan kolaborasi antara anak yang biasa dengan autistik.
“Di Sekolah Tunas Global, hal tersebut sudah diterapkan. Dimana, ada kolaborasi dan hubungan sosial yang baik antara siswa yang biasa dengan autistik,” katanya.
Oleh karena itu, menurut Rini sangat perlu adanya hal-hal yang dipahami oleh guru dalam mendidik dan membinging anak autistik. Seperti perlunya ada observasi untuk anak-anak austistik. Ada beberapa anak autistik yang aktif, sehingga diperlukan shadow teacher. Sekolah pun harus aman dan benar-benar mengawasi aktivitas anak dalam bersosialisasi.
“Perlu adanya kolaborasi yang baik antara orang tua, guru, dan juga dokter anak tersebut. Jadi, biar pendidikan dan pembinaannya terus bersinergi dan linier,” jelasnya.
Sementara itu, Founder @peduliasd, Isti Anindya menuturkan, kegiatan tersebut adalah bagian dari Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Fakultas Kedokter UI ke dirinya. Sedangkan dipilihnya tema autisme, karena anak dengan hal tersebut kerap jadi sasaran bullying. Hal itu karena tidak adanya perlawanan dari anak autistik saat menjadi sasaran bullying.
“Oleh karena itu, perlu ada peran guru. Dimana, guru menjadi penyambung antara anak yang biasa dengan austistik. Mereka harus bermain bersama dan berkolaborasi,” katanya.
Menurut Isti, siapapun bisa menjadi tenaga pendidik untuk anak luar biasa. Tidak harus lulusan dari Sarjana pendidikan yang menangani anak luar biasa. Karena, pada intinya adalah memiliki keinginan untuk belajar.
“Bisa dengan mengikuti pelatihan, guru jadi tahu tentang dasar-dasar tentang bagaimana menangangi anak austistik. Tetapi, tentunya berbeda menangani anak biasa dengan autistik,” jelasnya. (*)






