Indonesiadaily.net – Mengimplementasikan tri dharma perguruan tinggi, dosen Fakultas Kedokteran Universitas (FK) Veteran Pembangunan Nasional Jakarta (UPNVJ) mengadakan pengabdian kepada masyarakat (PKM) deteksi kanker serviks dengan IVA teks dan papsmear.
PKM yang dilaksanakan via zoom pada Rabu, 31 Mei 2023 dengan peserta perempuan usia 25 tahun ke atas di Jakarta dan Depok melibatkan tim dosen, yakni dr. Niniek Hardini, Sp.PA, Boenga NurCita ,MSc, Melly kristanti, MEpid.
Niniek mengatakan kanker adalah penyakit akibat pertumbuhan tidak normal dari sel-sel jaringan tubuh yang berubah menjadi sel kanker. Dalam perkembangannya sel kanker dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya sehingga dapat menyebabkan kematian.
“Kanker sering dikenal tumor oleh masyarakat, padahal tidak semua tumor adalah kanker,” kata Niniek.
Ia mengungkapkan, Kanker leher rahim atau kanker serviks adalag keganasan yang terjadi pada jaringan leher rahim yang merupakan bagian terendah dari leher rahim dan menonjol ke puncak liang senggama.
“Prevalensi kanker leher rahim merupakan salah satu jenis kanker yang tertinggi pada pasien rawat inap atau rawat jalan di seluruh rumah sakit di Indonesia dengan jumlah pasien 5.349 orang (12,8 persen),” ungkapnya.
Bahkan, sambung Niniek, berdasarkan data WHO, kanker serviks merupakan kanker keempat tersering di dunia dan kedua kanker tersering kematian di negara berkembang.
“Kematian sekitar 270.000 per tahun dengan 85 persen terjadi di negara berkembang, deteksi dini mencegah 80 persen kanker serviks di negara berkembang, insiden tertinggi terjadi di Amerika Tengah dan Selatan, Afrika Timur, Asia Tenggara dan negara pasifik,” sambungnya.
Niniek menerangkan, papsmear atau tes Pap adalah suatu prosedur untuk memeriksa kanker serviks pada wanita.
“Papsmear meliputi pengumpulan sel-sel dari leher rahim dan kemudian diperiksa di bawah mikroskop untuk mendeteksi lesi kanker dan prakanker,” terang Niniek.
Lebih lanjut ia menerangkan, tujuan dan manfaat Papsmear, yakni evaluasi sitohormonal, mendiagnosa peradangan, identifikasi organisme penyebab peradangan, mendiagnosis kelainan prakanker leher rahim dan kanker leher rahim dini atau lanjut.
“Selain itu memantau hasil terapi,” kata Niniek. (*)






