Jangan Melewatkan Sarapan, Ini Dia Efek Negatifnya bagi Tubuh

 

Indonesiadaily.net – Sarapan sangat penting bagi tubuh. Ketika kita tidak sarapan, biasanya menjadi lemas dan sulit berkonsentrasi. Hal ini terjadi karena otak tidak mendapatkan energi dari glukosa. Saat kita melewatkan sarapan ada beberapa dampak negatif yang akan terjadi pada tubuh kita, simak penjelasannya berikut ini.

Bacaan Lainnya

1. Gula darah rendah

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Frontiers of Human Nueroscience menunjukkan bahwa sarapan membantu memulihkan glikogen dan menstabilkan kadar insulin. Jika Anda tidak mengisi kembali simpanan glukosa Anda di pagi hari, Anda akan merasa terlalu lapar, dan lelah.

2.Metabolisme melambat

Riset dalam Journal of Obesity menunjukan bahwa makan lebih awal dapat memicu metabolisme dan mendorong tubuh untuk membakar lebih banyak kalori sepanjang hari. Saat Anda berpuasa terlalu lama, tubuh Anda beralih ke mode perlindungan, dan mulai menyimpan kalori sebanyak mungkin. Hal ini akan membuat metabolisme melambat. Akibatnya, glukosa yang disimpan di otot diubah menjadi sumber bahan bakar cadangan. Pada akhirnya, massa otot akan berkurang.

3. Hormon stres meningkat

Riset dari University of Texas di Austin menemukan bahwa sarapan memiliki efek positif pada kortisol. Kortisol memiliki banyak fungsi termasuk membantu tubuh menggunakan gula (glukosa) dan lemak untuk energi dan mengelola stres. Biasanya, kadar kortisol paling tinggi sekitar jam tujuh pagi. Pada saat inilah penting untuk makan sesuatu agar hormon stres menurun. Jika kadar kortisol tetap tinggi, Anda cenderung merasa cemas atau gelisah.

4. Risiko penyakit jantung meningkat

Sering melewatkan sarapan dapat membuat Anda lebih rentan terhadap kenaikan berat badan dan meningkatkan risiko penyakit jantung, obesitas, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan diabetes. Faktanya, penelitian Harvard menemukan bahwa mereka yang melewatkan sarapan setiap hari 27 persen lebih mungkin mengalami serangan jantung atau meninggal akibat penyakit jantung koroner.(*)

 

Editor : Nur Komalasari

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *