Ini 5 Penyebab Coldplay ‘Ogah’ Konser di Indonesia

coldplay Konser di Indonesia
Coldplay.

Indonesiadaily.net – Dunia hiburan konser di Indonesia tersebar isu akan ada penampilan Coldplay. Tentunya hal itu sangat heboh di media sosial, karena band asal Inggris tersebut belum pernah singgah di Indonesia sepanjang kariernya.

Padahal, pendengar Coldplay di Indonesia terhitung banyak, seperti Jakarta yang masuk ke dalam empat besar sedunia di platform Spotify.

Bacaan Lainnya

Urutan pertama pendengar terbanyak Coldplay adalah di London dengan 1.528.735 pendengar. Lalu Mexico City dengan 1.446.999 pendengar, Sao Paulo 1.412.006 pendengar, dan Jakarta dengan 1.040.763 pendengar tiap bulannya.

Pada pertengahan tahun lalu, Coldplay pernah menyapa salah satu fan asal Indonesia yaitu Reza Aditya Irawan. Vokalis Coldplay, Chris Martin, mengatakan bandnya bisa saja ke Indonesia.

Namun, tetap menjadi catatan, Coldplay tak asal dalam memilih negara untuk didatangi. Coldplay punya kecenderungan untuk menghindari konser di negara-negara yang tidak sesuai dengan nilai yang mereka usung.

Berikut 5 alasan kemungkinan Coldplay sulit konser di Indonesia.

1. Mepet tahun politik

Kemungkinan lain yang bakal mempersulit Coldplay datang ke Indonesia adalah pertimbangan waktu. Pasalnya, saat ini Indonesia mendekati tahun politik.

Menjelang Pemilu 2024, sejumlah tempat dan stadion yang biasanya dipakai untuk konser digunakan menjadi tempat kampanye.

Pada 2019 misalnya, Jokowi pernah menggunakan stadion gelora bung Karno (GBK) untuk itu. Tak menutup kemungkinan tempat-tempat itu akan digunakan untuk aktivitas serupa.

Selain itu, menjelang tahun politik, situasi sosial dan keamanan juga biasanya cenderung lebih rentan. Potensi adanya perpecahan karena polarisasi politik harus diantisipasi.

Bukan hanya itu, keberadaan musisi besar dunia di Jakarta yang sudah pasti jadi sorotan juga akan jadi momentum tokoh politik untuk muncul dan mejeng. Masalahnya, tak semua musisi senang konser mereka ditunggangi urusan politik.

2. Masalah inklusivitas

Coldplay juga dikenal mengusung inklusivitas dalam tur mereka, mulai dari menyediakan akses yang mudah bagi seluruh lapisan masyarakat hingga penerimaan terhadap berbagai golongan.

“Kami ingin konser kami dapat diakses oleh semua orang, dan agar semua orang mendapatkan pengalaman terbaik,” tulis Coldplay dalam tur mereka.

Sementara itu, Indonesia masih diwarnai sejumlah konflik horisontal, mulai karena perbedaan ras, keyakinan, hingga berbasis gender dan seksualitas.

SETARA Institute mencatat 175 peristiwa dengan 333 tindakan pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan (KKB) terjadi di Indonesia sepanjang 2022. Kemudian Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mencatat terdapat 48 regulasi anti-LGBT di Indonesia yang kerap dijadikan legitimasi dan pembiaran untuk persekusi kelompok minoritas ini.

Di sisi lain, Indonesia juga tercatat masih belum banyak menyediakan fasilitas dan pelayanan publik yang ramah kelompok disabilitas.

3. Banyak masalah lingkungan

Coldplay adalah salah satu kelompok musisi yang gencar menyuarakan masalah lingkungan. Bahkan, tur yang teranyar, Music of the Spheres World Tour, mengusung energi berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Sementara itu, Indonesia memiliki masalah lingkungan yang sangat banyak, mulai dari sampah plastik, polusi udara, hingga deforestasi. Bagi band yang peduli dengan lingkungan seperti Coldplay, masalah ini berpotensi menjadi ganjalan Indonesia untuk dilirik.

Mengacu pada data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), timbunan sampah di Indonesia pada 2022 mencapai 18,30 juta ton per tahun. Sebanyak 18,7 persen di antaranya adalah sampah plastik.

Selain itu, angka laju deforestasi di Indonesia juga masih tinggi. Greenpeace Indonesia mencatat deforestasi mencapai 299,6 ribu hektar pada 2018-2019.

Greenpeace menilai dengan tingginya angka deforestasi itu, pemerintah tak bersungguh-sungguh untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Ditambah lagi, masalah polusi udara. Berdasarkan situs IQAir, Jakarta beberapa kali meraih jawara Indeks kualitas udara (Air Quality Index/ AQI) terburuk dunia. Pada Rabu (22/6), DKI menjadi yang terburuk di dunia dengan skor 163 alias tidak sehat. Di bawahnya, ada Beijing (159) dan Dhaka (157).

4. Beberapa konser kacau

Konser-konser yang sebelumnya telah diselenggarakan di Indonesia juga banyak dinilai kacau. Salah satunya karena promotor yang tidak mempersiapkan konser tersebut secara matang. Antisipasi manajemen selama konser juga sering kali diabaikan.

Beberapa konser terakhir yang menjadi sorotan yaitu konser Dewa-19. Para penonton konser banyak yang mengeluh lantaran lokasi konser yang jauh dari transportasi umum.

Lalu ada festival musik Berdendang Bergoyang. Pada hari kedua atau Sabtu (29/10), acara tersebut dihentikan setelah polisi mencabut izin penyelenggaraan atas alasan potensi gangguan ancaman terhadap keselamatan penonton.

5. Ribut antar penonton

Akademisi manajemen konser dan festival dari Universitas Pelita Harapan (UPH) Yosia Revie Pongoh menilai saat ini reputasi Indonesia terkait penyelenggaraan acara buruk di mata dunia.

Hal itu tak bisa dilepaskan dari konser-konser sebelumnya yang masih banyak catatan. Karena konser-konser sering digelar di stadion sepak bola, maka bentrok antara penonton konser dengan fans sepak bola juga kerap terjadi.

Selain itu, tragedi berdarah dalam laga sepakbola yang belum lama terjadi juga turut berpotensi menjadikan pihak luar akan berpikir berkali-kali untuk mengadakan sebuah acara di Indonesia. (*)

 

Editor : Pebri Mulya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *