Moderasi Beragama Miliki Peran Vital Dalam Berbangsa dan Bernegara

Halaqoh Nasional di Pesantren Mahasiswa Al-Hikam dengan tema 'Moderasi Beragama di Kalangan Pendidik, Dai, dan Santri'. Kukusan, Beji, Depok. Foto: Dok. Ponpes Al Hikam

Indonesiadaily.net – Rangkaian peringatan Haul ke-6 KH. Hasyim Muzadi diisi dengan beragam acara, seperti khataman Al-Qur’an, Halaqoh Nasional sampai dengan doa bersama.

Pengasuh Pesantren Al Hikam Depok KH. M. Yusron Ash-Shidqi mengungkapkan moderasi beragama memiliki peran yang vital dalam berbangsa dan bernegara.

Bacaan Lainnya

Ia mengatakan, tidak ada jalan lain untuk menghadapi radikalisme dan liberalisme sekaligus kecuali dengan moderasi beragama.

“Kita tidak bisa membiarkan tumbuhnya radikalisme dan liberalisme saling berlawanan dengan sendirinya. Jangan sampai radikalisme dan liberalisme tumbuh subur,” kata KH. M. Yusron Ash-Shidqi usai Halaqoh Nasional di Pesantren Mahasiswa Al-Hikam dengan tema ‘Moderasi Beragama di Kalangan Pendidik, Dai, dan Santri’. Kukusan, Beji, Depok, Minggu (19/03/2023).

Ia mengatakan moderasi beragama sebagai jalan tengah dalam upaya menghadapi radikalisme dan liberalisme.

Tentunya kata dia, dalam upaya mewujudkan Islam yang Rahmatan Lil Alamin (rahmat bagi alam semesta).

“Sehingga, turut serta menjaga keutuhan NKRI,” ujarnya

Gus Yusron mengaku sebelum Abah (KH. Hasyim Muzadi) wafat beban pikirannya adalah agama dan negara, yakni tentang bagaimana keislaman di Indonesia dan nasib negara Indonesia sendiri.

Sehingga sebelum beliau wafat, lanjutnya, Abah menitipkan dua hal, yaitu: menitipkan kepada para kiai dan tokoh agama mengenai Islam di Indonesia dan NKRI.

“Tidak ada jarak antara negara dan agama, ini pertemuan antara orang-orang yang memperjuangkan nilai-nilai agama dan negara sekaligus,” katanya seraya menyebut acara Halaqoh Nasional yang merupakan  kerjasama dengan Badan Litbang Kementerian Agama ini.

Hal senada  diungkapkan Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag Agama RI Prof. Suyitno.

Kata dia, dalam konteks masyarakat yang multikultural ini moderasi beragama dapat mengurangi potensi konflik.

“Di samping itu,  ketegangan antara kelompok-kelompok agama yang berbeda,” ungkapnya.

Menurutnya diperlukan tindak lanjut dari Halaqoh ini dengan mengadakan kegiatan, di antaranya, lokakarya/workshop, FGD dan ToT Moderasi Beragama bagi Pendidik, Dai dan Santri.

“Moderasi beragama adalah solusi untuk menjaga negeri ini tetap damai, aman, rukun, bersahabat. Dengan catatan, moderasi beragama tidak berhenti pada tataran teoritik semata, tetapi yang beranjak pada tataran implementatif,” terangnya.

Sementara, Ketua Wantimpres, Jenderal (Purn) Wiranto menyebut moderasi beragama menjadi hal yang aktif dipromosikan dan terus diupayakan guna membentuk cara pandang masyarakat yang moderat.

Mengingat, lanjutnya, terus adanya ekstremisme, radikalisme, dan tak terbendungnya ujaran kebencian menjadi salah satu ancaman laten yang tidak boleh luput menjadi perhatian.

“Selalu mengakui, menghormati, dan mampu bekerjasama merupakan ciri dari masyarakat yang religius,” kata Wiranto

Indonesia dengan Pancasila turut menyuguhkan keistimewaan. Ada rajutan antara sila satu tentang ketuhanan dan pengakuan terhadap agama lain dengan sila ketiga yaitu persatuan Indonesia,” ucap Wiranto.

Sebelumnya, pembukaan  Halaqoh Nasional ini turut dihadiri oleh KH. Cholil Nafis selaku Rais Syuriah PBNU,  Prof. Rochmat Wahab selaku Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan UNY, dan lainnya.

Berikut ini adalah rekomendasi Halaqoh Nasional Moderasi Beragama bagi Kalangan Pendidik, Dai dan Santri, Kerjasama Balitbang Kemenag RI dan Al-Hikam, Depok 15-16 Maret 2023 :

1. Pancasila dan Moderasi Beragama harus menjadi Nilai kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara demi Keutuhan NKRI.

2. Pendidikan Moderasi Beragama sudah seharusnya mendapatkan Perhatian dikalangan Pendidik Santri dan Dai.

3. Dakwah Moderasi Beragama Perlu digalakkan lebih masif dan Menarik dikalangan Masyarakat terlebih didaerah-Daerah yang Rawan Konflik.

4. Tafsir atau Pemahaman Agama dari sumber Ashlinya harus dikontekstualkan sehingga bisa lebih memberikan kemashlahatan (Rahmatan Lil’alamin).

5. Diperlukan Tindak Lanjut dari Halaqoh ini dengan mengadakan Lokakarya/Workshop, FGD dan ToT Moderasi Beragama bagi Pendidik, Dai dan Santri, dalam Rangka Melaksanakan arahan dari Kabalitbang Prof. Suyitno.

Reporter : Irwan Supriyadi
Editor : Andri

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *