Indonesiadaily.net – Pro kontra kebijakan yang dikeluarkan pemerintah daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) terkait siswa SMA dan SMK masuk sekolah pukul 05.00 pagi menimbulkan polemik. Salah satunya datang dari ahli penyakit dalam
Andi Khomeini Takdir. Ia menilai kebijakan tersebut dapat mengganggu kesehatan siswa.
“Pak Gub Laiskodat, sekolah sepagi itu -imo- tidak baik untuk kesehatan. Jika sekolahnya jam 5, maka Murid & Guru bangun & bersiap jam berapa? Jam 4? Jam 3? Sebagian masih ibadah subuh & doa pagi. Ayah & Ibu Murid perlu siap2 juga kan? Mohon jangan rusak irama sirkadian anak,” kata Andi dalam unggahan di akun Twitternya, @dr_koko28 seperti yang dikutip dari kompas.com.
Untuk diketahui, irama sirkadian merupakan jam internal yang mengatur proses penting dan fungsi tubuh. Termasuk, kapan waktunya tidur dan bangun.
Dia menilai masuk sekolah pukul 05.00 pagi dapat mengurangi jam tidur para siswa. Ia menambahkan kecukupan tidur akan menjamin kualitas manusia tak hanya dari sisi kesehatan, tapi juga kecerdasan, daya ingat, dan kreativitas.
“Kualitas otak manusia, kualitas manusia, dibangun saat tidur,” katanya.
Menurutnya, kebutuhan tidur usia remaja dan dewasa, yakni 8 hingga 9 jam. Secara biologis, waktu tidur remaja dan dewasa muda, yakni pada pukul 23.00 ke atas dengan waktu bangun seharusnya siang. Sehingga, seharusnya otak baru aktif sekitar pukul 09.30 hingga pukul 10.00.
“Jam masuk sekolah di Indonesia sekarang yang jam 7 (pagi) saja sudah salah,” ujarnya.
Menurutnya, di beberapa negara maju, rata-rata jam masuk sekolah justru dimundurkan pada pukul 08.30 hingga 09.00 dengan alasan untuk meningkatkan kualitas kesehatan para remaja.
Lebih lanjut dia mengungkapkan, penelitian yang ada menunjukkan bahwa sekolah yang memundurkan jam masuk sekolah menjadi pukul 08.30-09.00 memperoleh sejumlah manfaat yang baik. Di antaranya prestasi akademik meningkat, angka terlambat menurun, dan angka absen karena sakit menurun. Selain itu, angka kenakalan remaja juga menurun hampir 0.
Andreas menambahkan, jika ingin meningkatkan produktivitas dan kesehatan siswa maka yang harus diperhatikan adalah kebutuhan jam tidurnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Pakar Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti mengingatkan, kebijakan sekolah terlalu pagi tidak baik untuk tumbuh kembang anak.
Menurutnya, tidur sangatlah penting bagi tubuh. Pada saat tidur, tubuh akan memperbaiki diri, baik secara fisik maupun mental, sehingga kita merasa segar dan berenergi saat bangun serta siap menjalani aktivitas.
“Ini penting dan perlu bagi anak-anak yang sedang tumbuh kembang sampai usianya 18 tahun,” kata Retno.
Ia mengatakan, banyak penelitian menunjukkan kebutuhan tidur yang tidak tercukupi dapat menyebabkan anak terlihat lelah.
Selain itu, kurangnya waktu tidur juga menyebabkan tubuh terlalu lemas, menguap sepanjang hari, sulit konsentrasi, dan kejang saat tidur.(*)
Editor : Nur Komalasari






