Muncul Dua Suspek Gagal Ginjal Akut pada Anak, Menkes: Karena Campak

Ilustrasi

Indonesiadaily.net – Belum lama ini muncul kembali informasi anak yang menjadi suspek gagal ginjal akut. Hal itu juga telah direspon oleh Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin. Menkes mengatakan ada dua suspek gagal ginjal aku yang muncul.

Walau begitu, Budi Gunadi telah menyampaikan jika dilihat dari ciri-ciri suspek, mereka diketahui mengalami infeksi biasa atau dengan kata lain buka terkena gagal ginjal akut.

Bacaan Lainnya

“Itu ada dua, sekarang sedang di cek, apakah itu gagal ginjal atau enggak. Indikasi sementara, sepertinya infeksi bisa karena campak,” kata Budi disitat dari Suara.com.

Dia menjelaskan, pihaknya telah melihat perkembangan kedua pasien yang belum memerlukan penanganan dari fomepizole. Kedua suspek tersebut saat ini hanya diberi obat-obatan anti infeksi. Namun, rupanya hal tersebut bekerja pada pasien.

Kondisi ini berbanding terbalik jika dua suspek tersebut mengalami gagal ginjal akut. Pasalnya, jika dua suspek itu mengalami gagal ginjal akut, dengan memberikan obat anti infeksi sendiri pasti tidak akan mempan dan butuh terapi fomepizole untuk- menyembuhkannya.

“Karena yang gagal ginjal itu, misalnya gini kalau dia dikasih obat-obatan biasanya dia tidak bereaksi. Sekarang ini dikasih obat-obatan anti infeksi, enggak dikasih fomepizole. Nah ini dikasih obat obatan anti infeksi langsung turun,” sambung Budi.

Oleh sebab itu, Budi mengungkapkan, dari pihak RSCM sejauh ini melihat kemungkinan dua suspek tersebut hanya mengalami infeksi biasa dan bukan gagal ginjal akut.

“Jadi kemungkinan temen-temen RSCM itu masih lihat ini sepertinya bukan GGA,” ujar.

Meski demikian, untuk lebih memastikan apakah dua suspek tersebut benar alami gagal akut atau tidak, itu masih membutuhkan pemeriksaan lab. Budi menjelaskan, dengan pemeriksaan lab, itu akan jelas karena diperiksa secara menyeluruh, baik dari darah, plasma, hingga obat yang pernah dikonsumsinya.

“Keduanya kita tunggu juga data labnya. Karena labnya kita menunggu data darah, plasma, dan data obat-obatannya,” pungkas Budi.(*)

Editor: Nur Komalasari

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *