Indonesiadaily.net – Berenang di perairan terbuka semakin populer, termasuk di Indonesia. Kegiatan outdoor ini menjadi aktivitas menarik di tengah keindahan perairan Indonesia. Namun, ternyata kegiatan ini memiliki risiko kesehatan yang tak boleh dianggap sepele. Berikut ini penjelasan bahaya berenang di perairan terbuka.
Sama seperti kegiatan outdoor pada umumnya, berenang di perairan terbuka memiliki sejumlah risiko bahaya. Bahaya paling umum adalah tenggelam. Dilansir dari Form Swim yang dikutip dari kompas.com, sebanyak 79 persen dari semua kasus tenggelam selain itu juga berpotensi mengalami kram hingga hanyut terbawa arus.
Risiko bahaya berenang dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti usia, jarak berenang, suhu air, jenis kelamin, dan penyakit yang diderita. Misalnya, hipertensi atau tekanan darah tinggi.
Baru-baru ini, penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal BMJ Case Reports menunjukkan bahwa berenang di perairan terbuka berkaitan dengan kondisi permasalahan di paru-paru yang disebut swimming-induced pulmonary edema (SIPE).
Studi ini dilakukan pada 3 juta orang di Inggris pada 2021. Dilansir dari Outdoor Swimmer, SIPE adalah sesak napas parah yang terjadi ketika Anda berenang di perairan terbuka.
Kendati demikian, belum ada penjelasan pasti terkait penyebab SIPE. Namun, ada kemungkinan SIPE terjadi karena adanya peningkatan tekanan arteri di paru-paru akibat sentralilsasi volume darah yang dibarengi dengan penyempitan pembuluh darah.
Menurut Science Alert, SIPE kemungkinan disebabkan oleh perubahan aliran darah dan respons yang lebih kuat dari pembuluh darah paru-paru terhadap suhu dingin saat berolahraga.
Seseorang dengan penebalan dinding ruang pompa utama jantung, penyakit jantung struktural, atau tekanan darah tinggi lebih mungkin terkena SIPE.
Gejala SIPE bisa saja terjadi dengan sendirinya atau bisa juga diikuti dengan beberapa gejala. Dikutip dari Outdoor Swimmer, berikut beberapa gejala. Muncul suara siulan atau kresek di dada, batuk berdahak, rasa sesak di dada.
Jika penderita SIPE tidak ditangani dengan cepat dan tepat, maka bisa mengancam jiwa. Bagi perenang yang mengalami gejala, sangat disarankan untuk segera keluar dari air dan mencari pertolongan medis jika diperlukan.
Hindari penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid. Cobalah berenang lebih lambat di air yang lebih hangat tanpa pakaian selam yang ketat untuk meminimalkan risiko kekambuhan
Dilansir dari Science Alert, wanita berusia 50 tahun pernah mengalami SIPE setelah dirinya berenang sejauh 3 kilometer. Perenang ini sebelumnya tidak mengalami masalah kesehatan. Namun, saat berenang di perairan terbuka, wanita tersebut tiba-tiba mengalami sesak napas hingga beberapa hari setelahnya.
Seminggu kemudian, sesak napas kembali terjadi ketika wanita itu berenang sejauh 300 meter. Kali ini, diikuti dengan batuk berdarah. Saat itu, diketahui dia berenang mengenakan pakaian selam di malam hari ketika air bersuhu 17 derajat Celsius.
“Saat berenang di malam hari, saya mulai terengah-engah dan menyadari bahwa saya tidak bisa berenang lebih jauh,” ucapnya. “Untungnya, saya dapat meminta bantuan dan dipandu kembali ke dermaga dengan papan dayung,” terang dia.
Begitu keluar dari air, wanita tersebut membuka pakaian selamnya dan segera merasakan sensasi paru-paru yang terisi cairan.
“Saya mulai batuk dan mulut saya terasa seperti logam. Ketika saya masuk ke cahaya, saya bisa melihat dahak saya berwarna merah muda dan berbusa,” tandasnya. (*)
Editor : Nur Komalasari






