Indonesiadaily.net – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menjelaskan alasan adanya impor broken rice atau beras patah sebanyak 284,50 ribu ton selama Januari hingga November 2022 ke Indonesia.
Plt. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Kasan mengatakan, semua broken rice tersebut digunakan untuk bahan baku industri.
“Broken rice untuk bahan baku industri,” ujarnya.
Hal yang sama disampaikan Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) Sutarto Alimoeso. Dia mengungkapkan, broken rice biasanya digunakan untuk industri bihun.
Tetapi, keputusan untuk impor beras broken rice tersebut disayangkan Sutarto. Karena, banyak penggilingan padi kecil di daerah Indonesia yang menghasilkan jenis beras tersebut.
“Alasannya selalu ada saja yang susah ngumpulinnya, kualitasnya rendah dan harganya lebih mahal daripada impor. Yang jelas importir ingin mudah dengan untung banyak,” ujarnya.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia telah mengimpor beras sebanyak 326,45 ribu ton sepanjang Januari hingga November 2022.
Impor itu didominasi oleh beras patah alias broken rice, other than of kind used for animal feed (HS 10064090) dengan share 87,15 persen.
Selain broken rice, other than of kind used for animal feed (HS 10064090), impor beras RI juga mencakup glutinous rice (HS 10063030) sebanyak 26,23 ribu ton atau 8,03 persen. Selanjutnya other fragrant rice (HS 10063070) sebanyak 7,1 ribu ton atau 2,17 persen dan semi-milled or wholly milled rice (HS 10063099) sebanyak 6,55 juta ton atau 2,01 persen.
Lalu, basmati rice (HS 10063050) sebanyak 1,76 ribu ton atau 0,54 persen, hom mali rice (HS 10063040) sebanyak 0,3 ribu ton atau 0,09 persen, dan beras lainnya sebanyak 0,01 ribu ton. (*)
Editor : Pebri Mulya






