Covid-19 Bikin Cakupan Vaksinasi Campak Menurun Drastis, 40 Juta Anak Terancam

Ilustrasi vaksinasi campak (pixabay)

Indonesiadaily.net – Selama pandemi Covid-19 angka cakupan imunisasi campak berkurang drastis. Akibatnya berdasarkan data WHO, sebanyak 40 juta anak yang belum mendapat imunisasi tersebut terancam penyakit tersebut.

Bahkan, melansir JawaPos.com, WHO menyatakan ancaman lain yang akan segera terjadi adalah dunia pasti akan menghadapi campak.

Bacaan Lainnya

WHO belakangan telah melaporkan hampir 40 juta anak melewatkan satu atau lebih dosis vaksin campak pada tahun 2021 lalu. Campak memiliki penularan yang mirip dengan Covid-19 yakni menjadi virus pernapasan, menyebar ke orang lain melalui tetesan di udara serta aerosol.

Menurut WHO, dilansir dari Science Times, Sabtu (10/12), sekitar 9 juta orang terinfeksi virus setiap tahun dan sekitar 128 ribu akhirnya meninggal karenanya. CDC juga melaporkan bahwa campak sangat menular. Faktanya, 9 dari 10 orang yang tidak terlindungi dapat terinfeksi setelah terpapar langsung.

Menurut WHO, dilansir dari Science Times, Sabtu (10/12), sekitar 9 juta orang terinfeksi virus setiap tahun dan sekitar 128 ribu akhirnya meninggal karenanya. CDC juga melaporkan bahwa campak sangat menular. Faktanya, 9 dari 10 orang yang tidak terlindungi dapat terinfeksi setelah terpapar langsung.

Science Alert juga mencatat bahwa R0 atau bilangan reproduksi dasar virus adalah sekitar 12 hingga 18. Ini berarti bahwa rata-rata sekitar 12 hingga 18 orang dari orang yang rentan dapat terinfeksi oleh satu orang.

Mereka yang terkena campak ringan pasti akan mengalami gejala seperti demam dan ruam. Namun, pada kasus yang parah, pasien dapat mengalami pneumonia, kebutaan, dan pembengkakan otak.

Vaksin Campak

Vaksin campak sangat efektif dalam melakukan tugasnya. Dosis dapat diberikan sendiri atau dilakukan bersamaan dengan vaksinasi lain, seperti rubella dan gondongan, sehingga imunisasi MMR akan lengkap.

Sebagian besar negara membagi dosis menjadi dua jadwal terpisah. Suntikan awal biasanya disebarkan saat anak berusia dua belas bulan. Yang kedua mengikuti ketika anak mencapai empat tahun.

Vaksin ini menawarkan perlindungan yang tahan lama dan kompetitif terhadap virus. Faktanya, Science Alert melaporkan bahwa menyelesaikan kedua dosis memberikan tingkat perlindungan sekitar 99 persen terhadap virus tersebut.(*)

 

Editor: Nur Komalasari

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *