Indonesiadaily.net – Ada lima tantangan ekonomi yang diprediksi akan dihadapi Indonesia untuk bisa bertahan dalam kondisi ketidakpastian ekonomi di tahun 2023.
Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Aviliani menjelaskan yang pertama dari kelima tantangan ekonomi tersebut yakni, bahan baku impor.
“Bahan baku makin malah, karena biaya produksi meningkat dan ini berdampak pada Indonesia,” kata Avi dalam Indef School of Political Economy, di ITS Tower, Jakarta Selasa 13 Desember 2022.
Aviliani menjelaskan, dengan kondisi tersebut kemungkinan industri akan menaikan harga. Hal ini berkaitan dengan nilai mata uang rupiah saat ini sudah menyentuh Rp.15.600 dari sebelumnya Rp.14.600.
“Oleh karena itu pasti ada adjustment dari kenaikan harga karena nilai tukar,” ungkap Aviliani.
Kedua, Aviliani menyoroti soal kenaikan biaya pinjaman dari berbagai kebijakan moneter di negara maju dan kenaikan harga energi menyebabkan kenaikan suku bunga acuan.
“Kemarin kita itu terlambat, karena naikkannya terakhir, capital outflow-nya sudah keluar, jadi obligasi pemerintah yang tadinya dikuasai asing 35%, sekarang jadi 14%,” ungkapnya.

Ketiga, permintaan ekspor melambat. Menurut Aviliani, produk berorientasi ekspor bisa terpukul karena penurunan permintaan.
“Ke depannya, kita harus lihat struktur industri kita. Mana sih yang sebenarnya kita punya kompetensi, nah itu yang ditingkatkan dan diberikan insentif,” sarannya.
Keempat, tantangan dalam daya beli konsumen, seperti diketahui dengan merosotnya nilai tukar rupiah, maka daya beli masyarakat pun mengalami penurunan. “Jadi ekonomi gak bergerak, masyarakat banyak menahan uangnya,” kata Aviliani.
Kelima, lanjut Aviliani, terkait peranan stimulus fiskal pemerintah dalam membantu dunia usaha diprediksi akan menurun. “Insentif dan bantuan yang diberikan pemerintah kepada para pengusaha, terutama Usaha Kecil juga pasti mengalami penurunan,” katanya.
Dalam kesempatan terpisah, Direktur Eksekutif Indef, Tauhid Ahmad menyampaikan bahwa saat ini, ketidakpastian yang terjadi bisa membawa dampak terhadap kehidupan sehari-hari.
“Tahun depan, kalau kita lihat, tingkat ketidakpastian sangat tinggi, baik sudut pandang ekonomi maupun politik. Ini menimbulkan perubahan cukup signifikan, perubahan isu-isu ekonomi di sekitar kita,” ujarnya.
Menurut Tauhid, isu ekonomi saat ini menjadi topik penting karena sangat bersinggungan dengan kebijakan dan kehidupan sehari-hari. Melambatnya ekonomi global juga berdampak pada berbagai sektor di dalam negeri. “Tapi Indonesia masih jauh lebih baik dibandingkan dengan negara lainnya,” ujar Tauhid.
Tauhid mengatakan, situasi global nantinya turut akan mempengaruhi situasi dalam negeri. Maka, menurutnya, diperlukan perhatian tentang apa yang bakal terjadi, termasuk dalam mengambil keputusan. “Kita mulai membaik dan ini mengakibatkan impor tumbuh, bahkan growth-nya tinggi. Domestik mulai panas, tapi di luar ternyata jauh lebih lambat. Ini membawa efek melambat ke kita,” terangnya.
Tauhid menambahkan, isu politik dan ekonomi saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan. “Isu politik akan mengakibatkan adanya kebijakan ekonomi, sedangkan masalah ekonomi bakal ditindaklanjuti dengan kebijakan politik (regulasi, red),” papar Tauhid.
Untuk itu, menurut Tauhid, penting bagi seluruh pihak memiliki pemahaman terkait situasi ekonomi dan politik ke depan. Sebab, pada akhirnya masyarakat akan menjadi yang paling terdampak dari kebijakan ekonomi maupun politik yang diambil.
“Bagaimana arah ekonomi ke depan, sejauh mana ketidakpastian terjadi, dan bagaimana kita memastikan yang dilakukan pemerintah berjalan sesuai jalurnya,” pungkasnya. (*)
Editor : Pebri Mulya






