Indonesiadaily.net – Pengakuan mengejutkan dilontarkan Panglima militer Pakistan, yaitu Jenderal Qamar Javed Bajwa tentang militer yang diakuinya telah mencampuri politik secara tidak sah selama beberapa dekade dan tidak akan lagi melakukannya.
Dia juga membela lembaga negaranya tersebut, apalagi setelah adanya kritikan keras dari mantan Perdana Menteri Imran Khan, yang menuduh tentara berperan dalam pemecatannya pada bulan April.
Melansir Sindonews.com, dia yang berbicara di sebuah acara di markas besar tentara di kota timur Rawalpindi, jenderal berusia 62 tahun itu bertanya-tanya mengapa tentara di negara tetangga India tidak dikritik oleh publik.
“Menurut pendapat saya, alasan untuk ini adalah campur tangan terus-menerus oleh tentara dalam politik selama 70 tahun terakhir, yang tidak konstitusional,” kata Bajwa, seperti dikutip dari Al Jazeera.
“Itulah sebabnya, sejak Februari tahun lalu, militer telah memutuskan mereka tidak akan ikut campur dalam masalah politik apa pun,” lanjutnya. Menurutnya, militer telah memulai “katarsis” dan menyatakan harapan bahwa partai politik juga akan “mengintrospeksi perilaku mereka”. “Kenyataannya adalah di Pakistan, institusi, partai politik dan masyarakat sipil – mereka semua melakukan kesalahan.
Sudah saatnya kita belajar dari mereka dan bergerak maju,” lanjutnya. Bajwa menyoroti situasi ekonomi Pakistan yang genting dan meminta semua pemangku kepentingan untuk mengesampingkan ego mereka, bekerja bersama-sama dan belajar menerima kemenangan dan kerugian mereka.(*)
Editor: Nur Komalasari






