Lakukan Prank ke Anak Bisa Picu Dampak Buruk, Ini Penjelasannya

Indonesiadaily.net – Prank atau memperdaya anak dengan trik ternyata dapat memperburuk kondisi psikis mereka jika dilakukan berlebihan.

Sebetulnya, prank yang dilakukan kepada mereka bisa menumbuhkan ikatan, tetapi hal itu akan berbalik jika salah dalam penerapannya.

Bacaan Lainnya

Orang tua harus memahami apa yang anak rasakan. Melansir JawaPos.com, melukai perasaannya, walaupun sejenak, dapat melunturkan relasi dan rasa percaya anak. Sebagai orang tua, cobalah menempatkan diri pada posisi anak.

”Misalnya nih mengatakan bahwa ayah kecelakaan, ibu sakit keras, atau boneka kesayangannya telah dibuang. Nilai orang tua, boneka, hewan kesayangan atau bahkan permen cokelat begitu mahal bagi anak,” ungkap Psikolog Cindy Adhianty Tupan SPsi MPsi.

Menurut dia, prank harusnya dilakukan sesuai porsi yang ada. Jangan sampai membuat anak sedih atau kesal berlebihan.

“Lakukan sesuai porsi. Jika prank sedikit mengagetkan, sejenak membuat kesal atau gemas, kemudian anak tertawa, tujuan prank tercapai. Kalau berlebihan, walaupun orang tua merespons dengan tertawa, anak akan tetap merasa sedih, marah, dan kesal,” kata dia.

Setiap anak memiliki ambang batas perasaan marah, sedih, kesal, dan cemas yang berbeda-beda. Terkadang orang tua sudah mengenali temperamen anak, tetapi melakukan prank yang membuat anak sangat marah di luar perkiraan.

”Jika hal itu terjadi, segera hentikan. Misalnya, meletakkan serangga plastik di tempat tidur sehingga anak sangat ketakutan atau marah. Apabila diteruskan, risiko anak mengalami gangguan kecemasan akan meningkat,” lanjut psikolog di Sanodoc Clinic Surabaya itu.

Banyak orang tua yang malah sengaja merekam aksi nge-prank-nya. Reaksi anak yang dirasa lucu itu kemudian dibagikan ke media sosial sebagai konten hiburan. Menurut Cindy, hal semacam itu tidak sepatutnya dilakukan.

”Anak akan menangkap bahwa orang tua bukanlah sumber emotional support. Sebab, saat dia sedang memunculkan respons menangis, berteriak, atau kesal, ortunya justru hanya hadir sebagai videographer,” ungkapnya.

Sekalipun anak memberikan respons positif, lanjut dia, sebaiknya momen tersebut dinikmati bersama. Alih-alih asyik memvideokannya. Orang tua bisa memberikan pujian pada anak, tertawa bareng, hingga melakukan aktivitas tersebut bersama.

”Jika orang tua mengekspresikan perhatiannya dengan merekam, anak akan memahami jika ingin diperhatikan harus ’perform’ supaya divideo. Saat dewasa, anak cenderung mencari perhatian atau malah mengekspresikan perhatiannya dengan cara serupa, yaitu merekam, bukan betul-betul menikmati momen tersebut,” papar Cindy.

Psikolog klinis itu kembali mengingatkan pentingnya mengenali karakter anak. Dengan begitu, orang tua bisa membedakan mana yang lucu dan yang menimbulkan trauma atau rasa cemas. Cindy memberikan beberapa contoh prank yang fun, tapi tidak melukai anak.(*)

Editor: Nur Komalasari

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *