Kasus Kematian Bayi di Indonesia Tertinggi, Menkes Wanti-want Pasutri Jangan Lakukan Ini

Ilustrasi bayi. (Pixabay)

Indonesiadaily.net – Menikah muda dan jarak kehamilan yang terlalu pendek membuat kasus kematian bayi baru lahir sering terjadi. Hal tersebut menjadi perhatian Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bahkan sampai mengingatkan kepada pasangan suami istri agar memperhatikan hal tersebut. Sebab menurut dia angka kematian bayi di Indonesia termasuk yang tertinggi di ASEAN. Datanya saat ini kematian bayi mencapai 24 per 1.000 anak.

Bacaan Lainnya

“Janganlah hamil usia muda, jangan hamil terus-terusan. Bilangin ke suaminya, janganlah cepet-cepat, baru lahir udah menghamili istrinya lagi. Jaga jarak kehamilan, jangan terlalu dekat,” ungkap Budi ketika memberikan sambutan Pekan Ilmiah Tahunan IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) seperti dilansie dari Suara.com.

Kemenkes ditugaskan oleh Presiden Joko Widodo agar mampu menurunkan angka tersebut menjadi 14 per 1.000 anak pada 2024 nanti.

Kasus Covid-19 kembali meningkat setelah masuknya varian terbaru XBB dan BQ.1 di Indonesia. Angka Covid-19 ini juga kian meningkat setiap harinya.

“Saya lihat negara paling bagus (di ASEAN) kematian bayi ada di Singapura itu 1,8 per 1.000 bandingkan dengan kita yang 24 per seribu, itu besar sekali. Jadi walaupun kita turun ke 14 per 1.000 masib 8x lipat atau 800 persen lebih tinggi dari Singapura. Jadj harusnya kita ambisi untuk turunkan sampai kurang dari 10 per 1.000 anak,” tutur Budi.

Ia mebambahkan bahwa ada tiga penyebab utama kematian bayi baru lahir. Di antaranya, berat badan lahir rendah (BBLR), asfiksia atau kadar oksigen rendah dalam tubuh, dan kelainan genetik.

Budi meminta kepada para jajarannya di Kemenkes juga oara tenaga kesehatan agar fokus ke dua penyebab terlebih dahulu, yakni BBKR dan asfiksia.

“Kita bisa bereskan mulai dari dua hal itu dulu. Hitung-hitungan saya kalau kedua hal itu bisa dibereskan, maka 40-50 persen angkanya akan turun. Itu saja (jumlah kematian bayi) sudah bisa turun menjadi 12. Kenapa kita gak konsentrasi di dua hal tersebut dulu,” ujarnya.

Untuk bisa mewujudkan hak tersebut, Budi meminta kepada para dokter mulai dari di puskesmas, posyandu, hingga rumah sakit untuk memastikan setiap ibu hamil dan janinnya sehat. Hal tersebut untuk memastikan bayi tidak BBLR.

“Ternyaga BBLR disebabkan ibunya yang kurang diurus. Jadi yang namanya kita mengurangi kematian bayi, kita harus urus ibunya. Karena kenyataannya kematian bayi paling tinggi karena berat badan lahir rendah,” ucap Budi.(*)

 

Editor: Nur Komalasari

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *