Indonesiadaily.net – Polisi membekuk kelompok gangster berjumlah 28 orang yang diduga hendak tawuran di samping danau Candu, RT 04 RW 02, Desa Serdang Wetan, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang.
Kapolres Tangerang Selatan (Tangsel) Tangsel AKBP Sarly Sollu mengatakan, kelompok gangster tersebut terbilang masih sangat muda.
Kata Sarly, mereka berinisial AH (21), MHS (16), GBS (16), AP (15), S (17), RN (15), HF (14), BZ (16), IF (16), EF (21), MA (20), H (18), DR (20), AH (21), N (30), WR (18), MSA (14), PPS (16), AR (18), AR (15), MRF (21), CL (17), PR (15), AFM (15), DRR (16), RD (17), RA (16), dan F (20).
“Penangkapan bermula saat Polsek Legok sedang melakukan patroli kejahatan jalanan, lalu mendapati sekelompok pemuda yang mengendarai sepeda motor di lokasi,” ujar Sarly saat dikonfirmasi, Senin (21/11/2022).
Sarly menerangkan, saat dilakukan penggeledahan, tidak ditemukan apa pun. Namun saat penyisiran TKP, ditemukan beberapa senjata tajam yang disembunyikan di bawah pohon bambu.
“Ada 17 senjata tajam yang disita, yaitu 4 stik golf, 2 celurit, 4 klewang dan 7 bilah pedang. Selain itu, 41 sepeda motor yang digunakan oleh para pemuda tersebut turut disita polisi,” terang Sarly.
Adapun ke-28 pemuda beserta barang bukti yang ada dibawa ke Polsek Legok guna pemeriksaan lebih lanjut.
“Kami melakukan pendataan dan data mereka dimasukkan ke Aplikasi Ada Polisi. Kami juga memanggil orangtua, ketua RT dan RW yang bersangkutan,” pungkasnya.
Tawuran antarpelajar kembali marak terjadi di Kota Tangerang. Dikutip dari kompas.com, anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tangerang Saiful Milah mengatakan, tawuran merupakan fenomena ekstrem akibat kesalahan negara.
“Sekarang kalau anak banyak tawuran, anak banyak BM (cegat dan menebeng truk di jalan), itu salah negara,” kata Saiful.
Untuk diketahui, pihak Polisi Metro Tangerang Kota melaporkan berbagai tindakan penangkapan para pelajar yang sedang tawuran.
Dari berbagai laporan tawuran tersebut, Saiful berujar, kesalahan negara adalah lalai dalam menyiapkan area yang ramah untuk anak.
“Jelas-jelas dalam menyiapkan sebuah keramahan untuk anak, anak berekspresinya negatif, ini fenomena ekstrem masyarakat di Kota Tangerang khususnya anak-anak sekolah,” jelasnya.
Dengan kondisi negara yang lalai menyiapkan lingkungan ramah anak, membuat mereka mengekspresikan diri melalui tindakan kekerasan, salah satu bentuknya adalah tawuran.
“Ini harus dicegah, harusnya ada kebijakan menyeluruh dari semua instansi pemerintah tidak hanya dinas pendidikan, ini harusnya semua kompak,” ujarnya.
“Lihat sekarang anak sekolah di jemput dengan bus ramah anak. Ini pada bawa motor. Harusnya negara itu nyiapin tanggung jawab,” pungkasnya.(*)
Penulis : Ihya Ulumuddin
Editor : Nur Komalasari






