Waspada, Varian Omicron XBB Sudah Ditemukan di Indonesia

Indonesiadaily.net– Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan Covid-19 varian Omicron XBB sudah ditemukan di Indonesia.

Ia  meminta semua pihak bekerja sama memperkuat efektivitas Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dan protokol kesehatan (prokes).

Bacaan Lainnya

“Singapura sekarang kasusnya naik lagi ke 6.000 per hari, karena ada kasus varian baru yaitu XBB yang sudah masuk di Indonesia dan sedang kita amati terus,” kata dia seperti dikutip dari kompas.com.

Kepala Sub Bidang Kesehatan Dukungan Darurat Satgas Covid-19 Alexander K Ginting mengatakan, varian XBB atau BA.2.10 telah terdeteksi di beberapa negara.

Di antaranya di Singapura, Australia, Bangladesh, Denmark, India, Jepang, dan Amerika Serikat sejak Agustus 2022.

Di Singapura, lanjut Alex, telah dilaporkan lebih dari 5.000 kasus varian XBB.

“Maka ini berarti sudah ada di halaman depan rumah kita,” ujarnya.

Ginting mengatakan, varian baru Omicron XBB telah mendominasi kasus Covid-19 di Singapura.

Sehingga, dapat dipastikan bahwa peningkatan jumlah kasus konfirmasi harian disebabkan adanya varian baru tersebut.

“Lab litbangkes (laboratorium penelitian dan pengembangan kesehatan) cepat atau lambat pasti mengumumkan secara resmi,” tandasnya.

XBB merupakan sub-varian Omicron baru, strain BA.2.10 yang pertama kali muncul di India pada Agustus 2022.

Pengamatan dari negara-negara dengan sub-varian XBB menunjukkan menular seperti varian saat ini, tetapi tidak menyebabkan penyakit yang lebih parah.

Namun, Kementerian Kesehatan (MOH) Singapura mengatakan bahwa ada bukti bahwa XBB mungkin mendorong peningkatan infeksi ulang.

Sebab sekitar 17 persen dari total kasus bulan lalu adalah kasus infeksi ulang.
Tidak ada bukti XBB menyebabkan penyakit yang lebih parah, dikutip dari CGTN.

Sejauh ini, sebagian besar pasien di Singapura terus melaporkan gejala ringan, seperti sakit tenggorokan atau demam ringan, terutama jika mereka telah divaksinasi.

Skema vaksinasi sebelumnya baik tiga suntikan mRNA lengkap atau empat dosis Sinovac masih sangat efektif mencegah penyakit parah. Namun, varian ini berisiko bagi mereka yang tidak divaksinasi. (*)

Editor : Nur Komalasari

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *