Terancam Punah, Trenggiling Dijual di Pasar Gelap

Indonesiadaily.net – Indonesia kaya akan aneka satwa. Keberagaman satwa tersebut membuat banyak hewan dilirik oleh oknum tak bertanggung jawab. Salah satunya adalah trenggiling Jawa. Kini, keberadaan trenggiling terancam punah karena sering dijual di pasar gelap.

Trenggiling adalah hewan mamalia bersisik tebal yang melapisi seluruh tubuhnya. Bernama latin Manis javanica, namun nasib hewan trenggiling ini tidak semanis namanya.

Bacaan Lainnya

Sebab, trenggiling adalah salah satu hewan yang paling banyak diburu dan dijual di pasar gelap untuk diambil sisiknya.

Dikutip dari situs resmi World Wildlife Indonesia (WWF), yang dipublikasikan pada 28 Februari 2019 lalu, trenggiling merupakan salah satu hewan yangpaling diminati di pasar gelap dan Indonesia adalah salah satu negara yang menjadi tempat asal distribusi dan pasar penjualan satwa liar ini.

Di China, daging dan sisik trenggiling dikonsumsi dan dimanfaatkan sebagai obat. Tak heran jika hewan pemalu ini banyak diburu untuk diambil bagian tubuhnya, terutama sisik tebalnya.

Tingginya angka perburuan dan perdagangan satwa liar trenggiling ini, telah membuat mamalia pemakan semut ini terancam punah.

International Union for Conservation of Nature (IUCN) Pangolin Specialist Group memperingatkan bahwa trenggiling Jawa atau trenggiling Sunda akan terancam punah di alam liar, jika aktivitas perburuan ilegal dan perdagangan satwa ini tidak segera dihentikan.

Trenggiling Sunda atau trenggiling Jawa adalah spesies terancam punah. Sama seperti spesies lain trenggiling di Asia dan Afrika, mamalia ini diburu untuk diambil sisik dan dagingnya.

Dikutip dari National Geographic, memiliki tubuh bersisik tebal, pangolin atau trenggiling menggunakan sisik mereka untuk melindungi diri dari ancaman pemangsa seperti macan tutul.

Saat terancam, trenggiling akan meringkuk, membentuk bola, sehingga sisik mereka akan membentuk bola dan melindungi perut mereka dari ancaman predator.

Namun sayangnya, meski mekanisme pertahanan ini bisa melindungi mereka dari pemangsa, tetapi strategi tersebut justru memudahkan manusia menangkap mereka, yang pada akhirnya trenggiling Jawa maupun spesies trenggiling lainnya diburu dan menjadi kian terancam punah. (*)

Editor : Nur Komalasari

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *