Presiden Minta PJ Gubernur Tangani Tiga Masalah Penting di DKI

Heru Budi Hartono
Heru Budi Hartono

Indonesiadaily.net – Presiden Joko Widodo menitipkan sejumlah instruksi untuk menangani Jakarta. Tiga aspek penting untuk ditangani menjadi pesan presiden kepada PJ Gubernur DKI Jakarta terpilih Heru Budi Hartono.

Tiga masalah itu, kata Heru merupakan problem penting yang masih dialami DKI Jakarta.

Bacaan Lainnya

Menurut Heru, pekerjaan rumah penting itu adalah penanganan masalah banjir, tata ruang dan kemacetan lalu lintas.

“Pak Presiden menitipkan kepada saya secara garis besar ada tiga hal. Pertama adalah penanganan banjir, tata ruang, kemacetan lalu lintas,” ujar Heru Budi Hartono di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (12/10).

Mengenai masalah kemacetan, Heru menjelaskan Jakarta sebenarnya memiliki cetak biru yang mumpuni dalam mengatasi masalah itu. Hal tersebut telah diterapkan sejak era kepimpinan Gubernur Wiyogo Atmodarminto.

Cetak biru itu, lanjut Heru, juga diterjemahkan dengan program transportasi TransJakarta sewaktu era Gubernur Sutiyoso.

Karena itu, Heru memastikan akan melanjutkan pembangunan moda transportasi massal TransJakarta dan juga MRT. Termasuk dari Pulo Gadung sampai Dukuh Atas.

Tentunya transportasi terpadu seperti MRT harus dilanjutkan, bukan hanya dari Lebak Bulus sampai Kota, nanti ada dari Pulo Gadung sampai ke Dukuh Atas,” jelas Heru.

Dalam kesempatan ini, Heru membeberkan Presiden Jokowi menginginkan kolaborasi antara Pemprov DKI Jakarta dengan pemerintah pusat, khususnya dalam mengembangkan transportasi massal.

“Beliau juga menyampaikan ada beberapa transportasi lainnya sekarang sudah jadi seperti LRT, bisa kolaborasi dengan Pemda,” beber Heru.

Sementara untuk masalah banjir, Heru mengatakan bahwa seluruh gubernur DKI Jakarta sudah berupaya untuk melakukan penanggulangan.

Nanti dalam kepemimpinannya, ia akan berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga non-kementerian terkait untuk meningkatkan efektivitas penanggulangan banjir di Jakarta.

“Misalnya normalisasi dan ada beberapa titik misalnya nanti tempat-tempat tertentu yang memang tidak bisa salurannya atau sungai dinormalisasi, itu kita bisa bikin sistem polder rumah pompa atau kendaraan pompa bergerak,” terangnya.(*)

 

Editor: Nur Komalasari

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *