Pemkot Surabaya Hapuskan PR, Begini Respon Nadiem Makarim

nadiem makarim tentang PTN
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim.

Indonesiadaily.net – Mendikbud Ristek Nadiem Makarim menanggapi kebijakan penghapusan pekerjaan rumah (PR) untuk SD dan SMP yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mulai (10/11).

Menurut Nadiem, hal ini merupakan hal yang baik, sebab seharusnya pekerjaan rumah itu tidak diberikan terlalu banyak kepada anak-anak.

Bacaan Lainnya

PR yang banyak akan memberatkan anak-anak, terutama mereka yang masih SD. Karena itu kebijakan Pemkot Surabaya direspon positif oleh Nadiem.

“Tidak perlu ada PR rutin, seperti tugas dari LKS (lembar kerja siswa). Itu sangat mengambil waktu,” ucap dia saat ditemui di Pontianak, seperti disitat dari Kompas.com, Selasa (25/10).

Sekolah, kata dia, seharusnya bisa menyesuaikan minat dan bakatnya masing-masing dari siswa SD.

“Jadi yang menurut mereka interest saja, terutama ini untuk siswa SD,” tegas dia.

Nadiem menyebut, PR yang diberikan kepada siswa itu harus ringan, seperti meningkatkan kapasitas membaca.

“Karena PR merupakan bagian dari project, kalau tidak ambil ekstrakurikuler, mereka pasti senang,” tutur dia.

Meski menyambut baik rencana penghapusan PR bagi siswa SD dan SMP di Surabaya, tapi keputusan itu balik lagi ke masing-masing pemerintah daerah (Pemda), seperti yang dilakukan di Surabaya.

Asal tahu saja, siswa di Surabaya tidak lagi tidak terbebani PR mulai 10 November 2022. Pasalnya, Pemkot Surabaya melalui Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya memastikan siswa tidak lagi terbebani PR.

Dia mengatakan, bahwa pelaksanaan kegiatan tersebut akan dimulai pada 10 November 2022, yakni bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan.

Dia meminta sekolah agar PR tidak membebani siswa. Sebab, Pemkot Surabaya tengah mengedepankan proses pertumbuhan karakter siswa.

“Sebetulnya PR itu jangan membebani anak-anak, tapi yang saya ubah PR itu adalah untuk kegiatan pembentukan karakter. Saya harap meskipun ada PR, tapi tidak terlalu berat dan terlalu banyak, yang penting adalah pertumbuhan karakter mereka,”jelas dia. (*)

Editor: Nur Komalasari

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *