Maladewa Dinobatkan Negara dengan Perceraian Terbanyak di Dunia

ilustrasi perceraian
Ilustrasi

Indonesiadaily.net – Pernikahan merupakan proses pengikatan janji suci antar pasangan yang sakral bentuk ibadah yang mulia dan suci sampai maut memisahkan. Namun dalam hidup terkadang beberapa hal yang direncanakan tidak dapat berjalan sesuai keinginan, termasuk pernikahan. Kejadian seperti perceraian pun tak jarang dapat terjadi.

Perceraian kerap disebabkan masalah komunikasi, ekonomi sampai gaya hidup. Ada beberapa negara yang memiliki angka perceraian yang tak bisa dibilang kecil.

Bacaan Lainnya

Negara apa sajakah itu? Dilansir dari world population review, berikut daftar negara dengan tingkat perceraian tertinggi:

1. Maladewa (5,52 Perceraian dari 1000 Orang)

2. Kazakhstan (4,6 Perceraian dari 1000 Orang)

3. Rusia (3,9 Perceraian dari 1000 Orang)

4. Belarusia (3,7 Perceraian dari 1000 Orang)

5. Belgia (3,7 Perceraian dari 1000 Orang)

6. Moldova (3,3 Perceraian dari 1000 Orang)

7. China (3,2 Perceraian dari 1000 Orang)

8. Kuba (2,9 Perceraian dari 1000 Orang)

9. Ukraina (2,88 Perceraian dari 1000 Orang)

10. Denmark (2,7 Perceraian dari 1000 Orang)

11. Latvia (2,7 Perceraian dari 1000 Orang)

12. Lithuania (2,7 Perceraian dari 1000 Orang)

13. Amerika Serikat (2,7 Perceraian dari 1000 Orang)

Sementara itu, data dari PBB dan sumber lainnya, Maladewa menjadi negara dengan tingkat perceraian tertinggi di dunia. Tercatat ada 2.984 perceraian dalam 540.544 populasi.

Dengan angka tersebut jika dikalkulasikan, Maladewa mencatatkan tingkat perceraian 5,52 per 1000 orang.

Angka ini sebenarnya sudah turun signifikan dibanding tingkat 2002 lalu di mana tingkat perceraian tercatat 10,97 per 1.000 orang.

Karena angka perceraian yang sangat tinggi, Maladewa sampai mencatatkan nama mereka di Guinness Book of World Records.

Kenapa Maladewa dijadikan negara berpredikat dengan rekor perceraian terbanyak di dunia?

Salah satu penjelasan umumnya ialah warga negara kepulauan ini tidak menyukai hubungan fisik di luar pernikahan, tetapi pernikahan dan perceraian cukup mudah dilakukan, sehingga mereka menikah dengan cepat dan bisa bercerai dengan cepat pula.

Selain faktor yang telah disebutkan diatas, faktor lainnya beberapa negara tersebut mengalami lonjakan perceraian adalah pandemi akibat Covid-19.

Pandemi Covid-19 tahun 2020-2021 berdampak luar biasa pada hampir setiap aspek kehidupan sehari-hari, termasuk tingkat pernikahan dan perceraian.

Secara keseluruhan, tingkat pernikahan turun secara signifikan pada tahun 2020, sebagian besar terkait pandemi dan pembatasan pertemuan publik.

Terlebih lagi, tingkat perceraian juga turun secara signifikan, dari 0,2 menjadi 0,4 poin dalam banyak kasus, di hampir setiap negara di dunia. (*)

 

Editor : Pebri Mulya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *