Kaya Manfaat, Rebung Bambu Jadi Makanan Sehat

Indonesiadaily.net – Bambu bukan hanya  dimakan oleh panda, di Asia Tenggara dan di beberapa bagian India, rupanya bambu telah dimanfaatkan sebagai makanan sehat. Yang bisa dimakan disebut rebung bambu. Lantas apa saja manfaatnya?

Bambu tumbuh di Asia, Afrika, dan Amerika, mengacu pada salah satu dari sekitar 1.450 spesies dalam keluarga rerumputan Poaceae.

Bacaan Lainnya

Rebung bambu kaya kandungan vitamin dan mineral, mulai dari potassium, kalsiun, zat besi, zinc, vitamin A, vitamin B6, hingga vitamin E.

Sebagian besar varietas bambu sangat kuat, dan tumbuh dengan baik di iklim pegunungan tropis dan dingin. Bahkan, bambu termasuk tanaman dengan pertumbuhan tercepat di dunia, yang mana mampu tumbuh hingga 60 sentimeter dalam satu hari.

Sebagai tanaman, bambu memiliki berbagai kegunaan, mulai dari untuk membuat furnitur hingga untuk makanan panda.

Dari sekitar 1.500 spesies bambu di seluruh dunia, spesies Bambusa vulgaris dan Phyllostachys edulis adalah jenis bambu yang paling umum digunakan dalam memasak.

Tunas dengan tekstur renyah biasanya dikupas sebelum dikonsumsi, karena bagian luarnya memiliki tekstur kayu tebal yang sulit dikunyah.

Bahan makanan ini dapat ditambahkan dalam tumis, kari, sup, dan salad. Tapi sebelumnya, harus direndam dan direbus sebelum dimasak.

Itu karena mengandung sejenis racun alami yang disebut glikosida sianogenik.

Racun glikosida sianogenik tersebut dihancurkan selama proses merebus, biasanya irisan akan direbus dalam banyak air selama beberapa kali.

Bukan hanya disajikan dalam menu masakan, rebung bambu juga banyak dipakai dalam pengobatan.

Dalam banyak teks pengobatan tradisional kuno, rebung bambu digambarkan sebagai ‘Kayu Orang Miskin’, ‘Tanaman dengan Seribu Wajah’, atau ‘Emas Hijau’ karena khasiat terapeutiknya yang tak terhitung banyaknya.

Penggunaan rebung bambu untuk pengobatan pertama kali dicatat dalam buku-buku Tiongkok yang berasal dari tahun 618-907 M, sementara di Jepang rebung disebut sebagai ‘Raja Sayuran Hutan.’ (*)

Editor : Nur Komalasari

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *