Jika Raja Salman Meninggal, Apa yang Akan Dilakukan MBS untuk Arab Saudi?

jika MBS jadi raja
Mohammed bin Salman (MBS).

Indonesiadaily.net – Sejak 2015, Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al Said menjadi penjaga situs paling suci umat Islam. Sebelumnya, selama 2,5 tahun ia menjadi putra mahkota.

Kini, pria yang kini berusia 86 tahun itu telah dua tahun dirawat di rumah sakit karena berbagai penyakit. Dalam beberapa kesempatan undangan internasional, Raja Salman mulai absen dan digantikan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS).

Bacaan Lainnya

Lantas, bagaimana bila Raja Salman meninggal dunia?

MBS Naik Takhta

Jika Raja Salman meninggal, Putra Mahkota Mohammed bin Salman akan ditunjuk menjadi ahli waris atau sebagai penggantinya. Melalui dekrit pada 2022, MBS diangkat menjadi perdana menteri negara tersebut.

Jabatan tersebut pun menguatkan kekuasaan MBS, yang sebelumnya telah menjadi pemimpin de facto negara itu. Sebelum menjadi perdana menteri, ia menjabat sebagai menteri pertahanan.

Bahkan, pria berusia 37 tahun itu juga sempat menjabat sebagai kepala pengadilan putra mahkota, wakil putra mahkota, dan presiden dewan ekonomi pembangunan.

Sejak naik ke tampuk kekuasaan pada tahun 2017, MBS diketahui telah mengubah Arab Saudi secara radikal. Ia memimpin upaya untuk mendiversifikasi ekonomi dari ketergantungannya pada minyak, memungkinkan perempuan untuk mengemudi, dan membatasi kekuasaan ulama.

Reuters pernah menyebutkan, reformasi yang dilakukan MBS juga diiringi tindakan keras terhadap perbedaan pendapat. Di mana sejumlah aktivis, bangsawan, dan pengusaha dipenjara.

Namun pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi di konsulat kerajaan di Istanbul pada 2018 juga telah menodai reputasinya. Ini membuat renggang hubungan kerajaan dengan Amerika Serikat (AS) dan sekutu Barat lainnya.

Pandangan Baru Arab Saudi

Sejak menjadi penguasa de facto dari produsen minyak terbesar dunia lima tahun lalu, MBS memang telah mengguncang kerajaan konservatif dengan reformasi yang berputar-putar. Sambil, meniadakan segala ancaman terhadap statusnya.

Laporan France24 menulis jika MBS dikenal karena ambisinya yang sangat besar, mulai dari membangun megacity futuristik yang dikenal sebagai NEOM. Hingga mengobarkan perang tujuh tahun di negara tetangga Yaman.

MBS sejauh ini telah mengawasi transformasi terbesar dalam sejarah modern Arab Saudi. Di bawah pemerintahannya, kekuatan polisi agama kerajaan telah dicabut, bioskop telah dibuka kembali, dan turis asing telah disambut.

Arab Saudi telah menggelar festival film, opera, Grand Prix Formula 1. Tinju kelas berat juga ada, termasuk gulat profesional dan festival rave terbesar.

Ia juga telah melonggarkan pembatasan hak-hak perempuan, memungkinkan mereka untuk mengemudi, menghadiri acara olahraga dan konser bersama laki-laki. Bahkan, mendapatkan paspor tanpa persetujuan wali laki-laki.

Masa Depan Produksi Minyak

Di saat krisis energi global, MBS telah mengerahkan pasokan minyak Arab Saudi yang melimpah sebagai senjata dalam pertempurannya untuk mendapatkan kembali posisinya di panggung dunia.

Jika ia menjadi raja, MBS diprediksi semakin meningkatkan produksi minyak negaranya, sebab ia tahu bahwa saatnya telah tiba untuk tawar-menawar dengan dunia dari posisi yang kuat melalui industri tersebut.

Diplomatik dengan Israel

Madawi al-Rasheed, profesor tamu di Middle East Institute of the London School of Economics, mengatakan MBS nantinya diprediksi akan mempercepat hubungan keamanan dan ekonominya dengan Israel. Ini akan menjadi awal dari normalisasi, yang akan menyenangkan banyak orang di Barat.

“Namun saat ini MBS tampaknya tidak terburu-buru untuk menyambut kedutaan resmi Israel di Riyadh. Dia tidak perlu melakukannya saat ini, karena semua urusan perdagangan dan keamanannya dengan Israel adalah rahasia umum. Tidak ada terburu-buru dari sudut pandangnya, tapi mungkin masalah ini lebih mendesak bagi Israel,” kata Madawi, dikutip dari Middle East Eye.

Hubungan dengan AS

Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi makin dekat melalui penandatanganan 18 perjanjian kemitraan di berbagai bidang, mulai dari energi, komunikasi, antariksa hingga layanan kesehatan dalam pertemuan bilateral pada Juli 2022 lalu.

Arab Saudi berkomitmen untuk meningkatkan produksi minyak pada Juli dan Agustus. Hal itu akan membantu menstabilkan pasar secara signifikan.

Dalam pertemuan tersebut, AS mengatakan, pihaknya menyambut baik penandatanganan Kerangka Kemitraan Bilateral untuk memajukan energi bersih. Melalui investasi baru Saudi dan mempercepat transisi energi dan memerangi dampak perubahan iklim.

Kerangka kerja tersebut berfokus terutama pada tenaga surya, hidrogen hijau, nuklir, dan inisiatif energi bersih lainnya. Perjanjian yang ditandatangani ini termasuk dengan perusahaan antariksa dan pertahanan AS, Boeing dan Raytheon.

Selain itu, juga penandatanganan dengan perusahaan-perusahaan layanan kesehatan seperti Medtronic, Digital Diagnostics, dan IQVIA, seperti yang dilaporkan kantor berita negara Saudi (SPA). Kerja sama dengan AS ini diprediksi akan makin kencang ketika MBS menjabat sebagai raja nantinya. (*)

 

Editor : Pebri Mulya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *