Ini Langkah Penting Hadapi Ancaman Resesi Ekonomi Global

Indonesiadaily.net – Ancaman resesi ekonomi secara global semakin nyata. Ini selaras dengan masih berlanjutnya inflasi yang memicu kenaikan suku bunga acuan bank sentral secara agresif.
Untuk menghadapinya diperlukan langkah penting menghadapi resesi ekonomi global tersebut.

Resesi ekonomi salah satunya ditandai dengan terkontraksinya pertumbuhan produk domestik bruto (PDB), tentu ini berpotensi berdampak terhadap kondisi keuangan masyarakat khususnya pekerja. Efisiensi di lingkup perusahaan menjadi salah satu hal yang kerap terjadi dalam resesi.

Bacaan Lainnya

Oleh karenanya, pakar keuangan menyarankan kepada masyarakat untuk ‘”mempertebal” kepemilikan uang tunai. Dengan demikian, masyarakat dapat meminimalisir imbas dari resesi ekonomi global.

Namun demikian, Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi Mike Rini Sutikno mengatakan, bukan berarti masyarakat harus berhenti berinvestasi atau menjual seluruh kepemilikan aset investasinya.

“Jangan buru-buru menjual aset investasi anda, karena takut harganya turun, itu namanya bersikap panik,” katanya.

Mike menambahkan dalam kondisi perekonomian yang berada di dalam resesi, kinerja investasi cenderung menurun. Namun demikian, masyarakat disarankan untuk tidak serta merta menjual aset investasinya.

Apalagi aset investasi yang dimiliki saat ini nilainya berada jauh di bawah harga beli. Alih-alih menambah kepemilikan uang tunai, hal itu justru membuat masyarakat merugi.

“Jawabannya itu bukan menjual semua, lalu masukan ke tabungan, ke emas, itu panik. Jawabannya yang paling tepat adalah mengelola risiko investasinya, atau risk management,” tuturnya.

Lebih lanjut Mike menjelaskan, peningkatan porsi uang tunai sebagai dana darurat memang diperlukan untuk menjaga likuiditas individu di tengah ketidakpastian ekonomi ke depan. Dengan tingkat likuiditas keuangan yang baik, individu akan mampu bertahan dalam jangka waktu yang lebih lama.

“Dalam rangka peningkatan likuiditas ini adalah peningkatan dari dana darurat, menjaga dana darurat kita sesuai dengan kebutuhan kita,” kata dia.

Namun, di sisi lain masyarakat disarankan untuk tetap berinvestasi. Harapannya, di tengah lonjakan inflasi dana yang dimiliki masyarakat tidak tergerus, justru berkembang.

Ia pun merekomendasikan kepada masyarakat dengan fokus diversifikasi aset. Adapun dana yang digunakan untuk berinvestasi juga disarankan untuk tidak langsung dalam nominal besar.

“Jadi memang benar, kita harus tetap punya cash, investasi yang aman, betul. Dialokasikan secara proporsional,” ucapnya.

“Lalu dana investasi kita sebar lagi, kita juga bisa membeli investasi likuiditas tinggi, contoh reksa dana pasar uang,” tandasnya. (*)

Editor : Nur Komalasari

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *