Indonesiadaily.net – Jakarta menjadi salah satu wilayah di Indonesia yang kerap diterpa banjir setiap hujan deras melanda.
Saat banjir datang, tentunya beberapa wilayah terdampak akan dipadamkan listrinya.
Menurut PT PLN (Persero) pemadaman tersebut terpaksa dilakukan demi menjaga keamanan masyarakat dari potensi bahaya listrik saat banjir melanda.
“Padam itu bukan karena ingin padam, tapi supaya masyarakat terhindar dari bahaya listrik yang ada di lokasi pelanggan itu sendiri,” ungkap Senior Manager Komunikasi dan Umum PLN Unit Induk Distribusi Jakarta Raya (Disjaya), Kemas Abdul Gaffur.
Dia mengatakan, sebetulnya dari sisi teknis, peralatan PLN sudah disiapkan untuk tetap bisa beroperasi meskipun hujan deras melanda. Hanya saja, seringkali kondisi di masyarakat memaksa PLN untuk memadamkan listrik. Pasalnya rumah-rumah masyarakat banyak yang terendam air.
“Kenapa banjir itu listrik tiba-tiba padam? Bukan berarti PLN itu tidak siap. Peralatan kami dibuat secara teknis untuk hadapi kondisi hujan dan panas. Namun dalam pelaksanaan penyalurannya ke masyarakat, ada kondisi di masyarakat, meskipun gardunya kita sudah ditinggikan cuma masyarakat rumahnya terendam air. Ada potensi bahaya listrik dari instalasi milik pelanggan,” ungkap Kemas.
PLN sudah mengupayakan agar fasilitasnya aman, misalnya saja meninggikan tiang dan gardu listrik di kawasan yang rawan banjir. PLN juga menyiapkan beberapa layanan listrik portabel yang bisa digunakan sementara oleh masyarakat.
Sejauh ini PLN bekerja sama dengan pemangku kepentingan di masyarakat hingga tingkat RT/RW. Apabila banjir merendam, perangkat RT/RW akan memberikan laporan ke PLN agar listrik dipadamkan demi menjaga keamanan masyarakat.
Pemulihannya pun PLN kembali berkomunikasi dengan RT/RW untuk mengecek apakah kawasan yang dipadamkan listriknya sudah aman dan tidak tergenang air.
“Upaya pemulihan listrik melihat kondisi di tengah masyarakat, ketika air turun, level terendamnya rendah. Kemudian kita tanya ke masyarakat melalui RT/RW apakah lokasi ini bisa dihidupkan? Setekah dicek, mereka tanda tangan kalau itu aman kemudian kita nyalakan,” sebut Kemas.
Lama pemadaman tergantung dari kondisi banjir yang kadang surutnya lama. Pihaknya sendiri menerapkan standar ketat demi keselamatan masyarakat dalam memastikan rendaman air sudah surut di wilayah yang dipadamkan karena banjir.
“Kami akan bertanya sampai 3 kali, untuk memastikan kalau semua aman baru dinyalakan. Pihak kami pun sudah berjaga memantau kondisi di wilayah rawan banjir,” ungkap Kemas.
Kemas memberikan beberapa tips keamanan listrik di rumah saat banjir terjadi. Menurutnya, potensi bahaya kelistrikan sangat besar bila rumah kebanjiran.
Pertama, masyarakat disarankan untuk langsung mematikan instalasi listrik di rumahnya melalui MCB, apabila air mulai menggenang di dalam rumah.
Kedua, masyarakat diarahkan untuk mencabut peralatan listrik yang masih tersambung dengan stop kontak saat banjir terjadi. Ketiga, naikkan alat elektronik ke tempat yang lebih tinggi dan jauh dari potensi genangan air.
Keempat, lapor ke PLN melalui call center PLN 123 apabila rumah terendam banjir untuk mengamankan aliran kelistrikan. Salah satu yang akan dilakukan PLN adalah memadamkan listrik di rumah yang kebanjiran.
Kelima, hubungi instansi terkait bencana alam untuk mendapatkan bantuan dan penanganan lebih lanjut.
Ketika banjir surut dan listrik sudah menyala, pastikan alat elektronik tetap kering sebelum disambungkan dengan aliran listrik.
Sementara itu, apabila listrik masih padam saat banjir sudah surut, masyarakat disarankan segera melapor ke PLN melalui call center 123 ataupun melalui aplikasi PLN Mobile. (*)
Editor : Pebri Mulya






