Indonesiadaily.net – Kerap tampil mesra di hadapan publik, kabar Kekerasan Rumah Tangga (KDRT) yang diduga dilakukan oleh Rizky Billar kepada sang istri membuat geger belakangan ini.
Saat ini, perhatian publik tidak hanya tertuju kepada Lesti Kejora, namun juga kepada sang buah hati, yaitu abang L. Banyak yang berpendapat jika anak bernama Muhammad Leslar Al-Fatih Billar ini menjadi korban utama karena kejadian ini.
Mengutip dari Suara.com, pengguna Twitter misalnya, mengungkapkan pendapatnya agar Lesti segera mengganti nama buah hatinya dengan Rizky Billar tersebut.
“Please Lesti, ganti nama anak secepatnya. Jiwa yang suci itu tidak layak disematkan nama seorang tukang selingkuh dan tulang pukul. Setelah kamu pulih. Semoga segera dapat keadilan. PLEASE JANGAN DAMAI!! Please gak perlu mikirin perasaan para Leslar, jangan pedulikan perasaan para Leslar. Kamu sudah sangat kuat,” tulis akun ind****s yang mengutip berita KDRT Lesti Billar.
Beneran banget tadi kepikiran Lesti kayanya harus ganti nama anaknya deh mumpung masih bayi gausah ada nama Leslar-nya, atau kalo bisa gausah ada nama bapaknya tuh sekalian. Kasian banget Lesti,” timpal pengguna fit***.
Jawaban Pakar Nama dan Holistik
Dihubungi secara terpisah pakar nama dan holistik Ni Kadek Hellen, S. Psi, M. Ed, mengatakan bahwa nama Leslar akan membawa beban berat bagi putra pasangan Lesti dan Billar.
Disarankan tidak memakai nama Leslar dan juga Baby L. Terlalu banyak hal negatif yang akan terjadi termasuk sakit berat yang berulang juga ada potensi cacat fisik,” kata Heleni kepada Suara, Jumat (30/9/2022).
Selain beban berat, hambatan hidup dan menganggu kesehatan, Heleni juga menyebut bahwa nama tersebut berpotensi membuat karakter anak biduan itu menjadi gagap dalam mengatasi masalah dan gagap dalam mengambil keputusan.
Sedangkan panggilan Baby L lebih parah lagi. Intinya terlalu banyak hal negatif yang berpotensi terjadi, secara karakter juga kurang baik bisa berpotensi melakukan tindakan-tindakan yang kejam,” tambahnya.Sedangkan panggilan Baby L lebih parah lagi. Intinya terlalu banyak hal negatif yang berpotensi terjadi, secara karakter juga kurang baik bisa berpotensi melakukan tindakan-tindakan yang kejam,” tambahnya.
Editor : Nur Komalasari






