Indonesiadaily.net – Sebagai hewan yang menjadi banyak dipelihara oleh manusia, Kucing merupakan hewan yang populer di dunia.
Kebanyakan dari kalian, mungkin memelihara hewan yang satu ini karena tingkah lakunya yang menggemaskan. Tapi, pernahkan kalian membayangkan adanya pulau yang dihuni banyak kucing.
Aoshima, salah satu pulau di Jepang yang dihuni oleh banyak kucing dan hanya sekelompok manusia.
Melansir dari Kompas.com, Aoshima saat ini dihuni oleh enam orang dengan ratusan kucing. Karenanya, tempat ini dijuluki “Pulau Kucing”.
Aoshima pernah menjadi desa nelayan makmur dan rumah bagi 900 orang pada pertengahan 1940-an.
Dikutip dari All Thats Interesting, Aoshima saat ini dihuni oleh enam orang dengan ratusan kucing. Karenanya, tempat ini dijuluki “Pulau Kucing”.
Aoshima pernah menjadi desa nelayan makmur dan rumah bagi 900 orang pada pertengahan 1940-an.
Saat ini, hanya segelintir penduduk lanjut usia yang tidak pindah setelah Perang Dunia II yang tersisa. Pada 2019, hanya enam penduduk tetap yang tercatat.
Pulau tersebut telah menjadi objek wisata yang berkembang pesat, tetapi tidak memiliki toko dan restoran.
Apa yang dimiliki oleh Aoshima hanyalah kucing, kucing, dan kucing.
Dikenal sebagai surganya kucing, Aoshima mulanya hanya memiliki delapan kucing untuk setiap manusia pada 2018.
Kucing awalnya diperkenalkan di kapal karena nelayan harus berurusan dengan masalah hewan pengerat.
Akan tetapi, kucing-kucing itu kemudian tetap tinggal di pulau itu dan berkembang biak, sehingga populasinya meningkat hampir secara eksponensial.
Penduduk setempat juga cenderung memberi makan kucing-kucing itu secara berlebihan.
Para peneliti yang mempelajari Aoshima telah mengetahui bahwa kucing mengatur diri mereka sendiri dalam hierarki.
Artinya, kucing jantan bersaing untuk wilayah dan pasangan betina mereka bersaing untuk mendapatkan makanan.
Mereka berpendapat, kondisi kehidupan di tempat yang disebut surga ini sama sekali tidak seperti surga.
Dengan begitu banyak kompetisi antarspesies, anak kucing sering mati sebelum dewasa karena kelaparan, penyakit.
Satu-satunya hambatan adalah ketika musim dingin tiba dan pariwisata melambat, kucing-kucing menjadi lebih putus asa untuk mencari makanan.(*)
Editor: Nur Komalasari






