Bima Arya Ingin Bogor Perbanyak Riset Siapkan Generasi Emas

riset kesehatan bogor 2
Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke XIV yang diadakan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Bogor di IPB International Convention Center (IICC), Sabtu 8 Oktober 2022.

Indonesiadaily.net – Indonesia jangan hanya jadi ‘pengekor’ dalam pengembangan riset dalam berbagai bidang, terutama untuk kesehatan. Hal tersebut disampaikan Wali Kota, Bima Arya dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke XIV yang diadakan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Bogor di IPB International Convention Center (IICC), Sabtu 8 Oktober 2022.

Bima Arya menyebutkan, dengan banyaknya riset juga bertujuan untuk menyiapkan Generasi Emas 2045.

Bacaan Lainnya

“Ke depan kita perlu riset, karena target kita adalah 2045 Indonesia Emas. Tapi kembali lagi kondisi saat ini, bisa tidak kita menjemputnya. Riset untuk menguatkan langkah agar kita tidak selalu menjadi pengekor. Riset itu tidak hanya ilmu kedokteran semata, semua bidang. Sehingga akan lebih mudah melangkah jika kita memiliki data,” katanya.

Selama dua tahun pandemi menurutnya, semua ‘lesson learned’, Indonesia diamati lebih kecenderungan selalu ‘pengekor’ dan ‘serba gelap’, selalu mengikuti apa yang negara lain lakukan berdasarkan riset.

Bima Arya menyebutkan, ada 1.300 dokter di Kota Bogor. Sedangkan untuk skala Indonesia, Jawa Barat adalah penyumbang dokter terbanyak, yakni mencapai dari total 25 persen.

“Luar biasa, dengan kuantitas segitu harusnya kualitas kesehatannya sesuai. Hari ini saya senang ada disini untuk menyemangati, memotivasi dan Insya Allah berkolaborasi. Pemkot Bogor bersama teman-teman dokter menatap masa depan dengan berkolaborasi,” katanya.

Pada kesempatan itu, ia mengungkapkan saat ini semua ada di fase yang disebut para pemimpin dunia sebagai fase The Edge of Uncertainty (era ketidakpastian), dimana semua sangat bisa berubah dalam hitungan yang cepat. Seperti pandemi wabah Covid-19, perang, penyakit cacar monyet hingga kenaikan BBM.

Terakhir Bima Arya menekankan, ke depan tentunya Kota Bogor perlu banyak riset, bukan riset untuk komersialisasi, tetapi untuk memperbaiki kebijakan publik, termasuk kebijakan kesehatan, sistem rujukan yang paling efektif, asuransi dan yang lainnya.

riset kesehatan bogor

Sementara itu, Ketua IDI Provinsi Jawa Barat, Eka Mulyana menuturkan, ilmu kedokteran bukan seperti matematika. Pasalnya, perubahan dan penemuannya sangat cepat sekali.

Disamping itu, IDI bersama organisasi profesi kesehatan lainnya sedang membahas dan memperjuangkan isu-isu yang sedang hangat dalam rangka RUU kesehatan maupun terkait Omnibus Law.

Hal ini sangat erat kaitannya dengan pelayanan kesehatan, sehingga berkeadilan tidak hanya untuk masyarakat sebagai penerima layanan kesehatan tetapi juga tenaga kesehatan lainnya memberikan kontribusi yang berkeadilan.

Ketua IDI Kota Bogor, Ilham Chaidir menjelaskan, pelaksanaan PIT di Kota Bogor dihadiri cukup banyak peserta dibandingkan daerah lain.

Banyak hal yang telah dilakukan panitia untuk meningkatkan kapasitas dan hal lain dari seluruh anggota IDI Kota Bogor dari sisi keilmuan dan pengetahuannya.

Terkait riset yang ditekankan Bima Arya, saat ini penemuan di bidang kedokteran sangat cepat sekali. Penelitian yang baru harus bisa di improve dan menjadi seorang dokternya itu harus continuous improvement dam selalu mengembangkan diri.

“Setiap 3 menit ada penemuan ilmu kedokteran di seluruh dunia, jika tidak mengikuti akan tertinggal dan terlindas oleh perubahan. Cara-cara baru terutama fungsi dari kewajiban dokter adalah mengembangkan keilmuannya, khususnya dalam melakukan penelitian atau riset. kalau bisa memang berdasarkan data, sehingga mampu memberikan sumbangsih bagi dunia kedokteran,” jelasnya.

Ketua Panitia PIT XIV IDI Kota Bogor, Iqbal Ichsantyadi Awang menjelaskan, kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari ini bertujuan untuk menjaga marwah profesi para anggotanya berupa mempertahankan standar keilmuan dan pengetahuan.

Tema Current Evidence Based Update on Chronic Degenerative Disease Management kata Iqbal, difokuskan pada re-deteksi dan long treatment sebagai suatu bentuk sinergi IDI dengan sistem kesehatan secara umum di Kota Bogor terkait masalah yang cukup besar yaitu penyakit degeneratif atau penyakit tidak menular yang spektrum dan dampaknya cukup luas di Kota Bogor.

Acara yang berlangsung 8 dan 9 Oktober 2022 ini diikuti diikuti 542 peserta. Untuk sesi simposium tercatat ada 14 perhimpunan yang berpartisipasi. (*)

 

Jurnalis : Ibnu

Editor : Pebri Mulya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *